Hamudi Setiyawan Prabowo: Tugas 2: Ilmu Budaya Dasar

Tugas 2: Ilmu Budaya Dasar

Kasus:
Kasus yang saya angkat adalah tentang Ibu yang tak merestui hubungan anaknya, bersumber dari: http://nostalgia.tabloidnova.com/articles.asp?id=1359. Berikut pemaparannya.

Ibu tak Restui Hubungan dengan Gadis Pilihan

Bu Rieny yang terhormat, Saya mahasiswa tingkat akhir fakultas kedokteran sebuah perguruan tinggi. Saya mengenal Ibu karena pacar saya (sebut saja N) rajin berlangganan NOVA. Saya punya masalah soal hubungan saya dengan N, Bu. Saya kenal ia sejak kami sama¬sama satu SMP di kota C. Waktu itu, ibu saya melarang saya pacaran dengan N, karena saya masih terlalu kecil. Saya bisa menerima alasan itu, sehingga saya pun hanya bersahabat dengan N. Kemudian, lulus SMP, saya diterima di SMU kota B. Begitu juga N, yang diterima di SMU terbaik di kota yang sama.
 Di kota B, saya tinggal bersama kakak saya yang sudah kuliah, sementara N kos di dekat sekolahnya. Saya pun sering main ke kos-kosan N. Kalau pulang kampung, kami juga memilih pulang bareng. Cinta yang dulu pernah ada pun lambat-laun kembali hadir. Akhirnya, kami sepakat menjalin cinta. Kami berpacaran, Bu.

Ternyata, ibu saya kembali mengendus hubungan saya dengan N. Dan seperti saat kami SMP dulu, beliau juga melarang hubungan kami, tanpa alasan yang jelas. Tapi, kali ini, saya tak lagi peduli. Saya tetap berhubungan dengan N, bahkan tetap bertahan hingga kami kuliah di tingkat akhir (saya dan N satu fakultas).

Selama 8 tahun saya menjalin hubungan dengan N, selama itu pula Ibu menekan saya untuk memutuskan hubungan itu. Bukannya saya tidak menuruti kata orang tua, Bu, saya hanya ingin alasan yang jelas, kenapa dilarang berhubungan dengan N. Pernah saya tanyakan hal itu pada Ibu, tapi jawaban beliau terkesan sekenanya. Katanya, kakek N itu dukun, N itu wanita matre dan suatu saat bisa saja ia menjebak saya dengan jalan membuat dirinya hamil supaya saya segera menikahinya.

Bu Rieny, hancur rasanya hati ini mendengar semua itu. Tak saya duga, ibu saya tega berkata seperti itu. Saya tak bisa berbuat apa¬apa. Saya pikir, wajar ibu saya berprasangka seperti itu karena beliau belum mengenal N.

Toh, saya tidak tinggal diam, Bu. Saya segera mencari informasi perihal keluarga N. Saya berkunjung ke rumah kakek-neneknya. Kebetulan, saya sudah dekat dengan orang tuanya, bahkan mereka juga tahu masalah yang tengah saya hadapi. Mereka menyerahkan semuanya pada saya dan N dan hanya berpesan, apapun yang terjadi, saya dan N harus tetap sayang dan hormat pada kedua orang tua saya.

Setelah saya melihat sendiri kakek-neneknya, ternyata apa yang disebut-sebut ibu saya sama sekali tidak terbukti. Saya juga yakin, N bukanlah perempuan matre. Dia cukup mandiri dengan bisnis yang kini tengah digelutinya, kok. Wajar saja kalau sekali¬sekali kami saling traktir atau membelikan sesuatu sebagai bukti rasa sayang kami. Yang paling tidak mungkin bagi saya adalah pernyataan terakhir ibu saya bahwa N bakal menjebak saya. N adalah wanita yang taat pada agamanya, Bu. Bahkan, ia itu guru ngaji saya. Berkat N, wawasan agama saya bertambah. N jugalah yang sering mengingatkan saya untuk tetap hormat dan tidak melawan orang tua.

Sekarang, saya malas bertemu ibu saya. Ingin rasanya menghindar saja dari beliau. Akan tetapi, setelah saya pikir-pikir, itu tidak baik dan tidak menyelesaikan masalah. Ibu bahkan pernah bilang, kalau saya mau memutuskan N, ia akan mengganti mobil saya dengan mobil keluaran terbaru, sekaligus menggelar syukuran. Sebaliknya, kalau saya tidak menuruti katanya, beliau tidak bakal lagi membiayai kuliah saya dan akan mengambil mobil saya. Saya hanya bisa diam, Bu.

Bu Rieny, terkadang saya ingin menjelaskan atau mengklarifikasi semua masalah ini pada beliau. Sayangnya, di keluarga kami, tradisi diskusi antar-anggota keluarga adalah sesuatu yang asing. Tak pernah ada komunikasi yang kondusif antara saya dan Ibu. Pokoknya, apa kata Ibu, itu jugalah aturan bagi seluruh keluarga. Terkadang, saya iri melihat keluarga N yang sangat demokratis. Saya ingin seperti N, bisa curhat pada ibunya, pula diberi kebebasan untuk menyatakan pendapatnya.

Dan karena tak ada komunikasi dengan keluarga, saya hanya bisa menceritakan masalah saya pada N. Kalau sedang curhat, N hanya diam atau terkadang menangis. Saya bisa mengerti perasaannya, Bu. Sebagai seorang wanita, dia pasti ingin diperlakukan seperti wanita lainnya, dikenalkan pada keluarga, dan sebagainya. Tapi dia tak pernah mengeluh soal itu. Dia hanya bilang supaya saya sabar dan lebih rajin salat malam, berdoa pada ALLAH. Bu Rieny, di mata saya, N adalah wanita yang tabah dan sangat sabar (teman¬teman saya juga bilang begitu).

Karena tidak kuat lagi, akhirnya saya putuskan untuk berbicara pada Ayah. Saya tanya beliau, kenapa Ibu melarang saya berhubungan dengan N. Ayah bilang, dia tidak melarang saya. Beliau percaya saya sudah dewasa, bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Menurut Ayah, 8 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi saya untuk mengenal N. Bahkan Ayah juga cerita, beliau merasa tertekan setiap kali Ibu memintanya untuk menasihati saya.

Mendengar kata-kata Ayah, dunia serasa kembali cerah, Bu. Namun, ternyata itu tak berlangsung lama. Dunia seakan kembali gelap ketika keesokan harinya, Ayah malah menekan saya. Saya harus menanggung kekecewaan yang lebih dalam. Hari itu pula, saya "disidang" sebagai terdakwa. Kata Ayah, masalah saya bukanlah soal matematika yang bisa dijawab dengan pasti. "Jadi jangan harap kamu dapat jawaban kenapa Ibu melarang kamu," kata Ayah waktu itu. "Feeling ibumu mengatakan bahwa N bukanlah wanita yang baik buat kamu." Titik.

Ah, masih banyak lagi petuah yang mereka sampaikan, Bu, antara lain bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah yang terbaik buat saya. Dan yang wajib saya ingat adalah ridho orang tua adalah ridho ALLAH. Ibu juga sepertinya mengumbar kutukan, kalau saya nekad memilih N menjadi pendamping hidup, ia doakan rumah tangga saya tak bahagia dan pasien saya sedikit. Pantaskah seorang ibu berdoa seperti itu untuk anaknya, Bu? Pantaskah? Ayah sendiri hanya menyarankan agar saya berpikir kembali, apakah akan terus berhubungan dengan N atau pilih keluarga. Tapi, saya tak bisa memilih. Pilihan itu terlalu sulit.

Akhirnya, saya berkirim surat kepada ibu saya. Saya pikir, kalau bicara langsung, pasti akan terjadi adu mulut, karena saya dan beliau masih sama-¬sama "panas". Hasilnya, Ibu marah besar. Beliau menganggap saya membela N, padahal saya hanya mengutarakan perasaan saya apa adanya. Beliau pun memberi pilihan, memilih memutuskan hubungan dengan N atau saya menikah setelah beliau meninggal.

 Bu Rieny, saya tak tahu lagi harus berbuat apa. Semakin saya ditekan orang tua, semakin dekat dan sayang saya terhadap N. Hanya N-lah yang mau mendengarkan segala keluh-kesah saya, cuma N-lah yang mengerti perasaan saya. Karena dia, saya bisa tegar dan kuat seperti saat ini, dan karena dia juga, saya bisa menyelesaikan kuliah saya.

Kini, saat wisuda kami sudah di depan mata, Bu. Itu artinya, masa depan kami sudah siap menyongsong. Saya sungguh ingin keluar dari masalah ini, tanpa harus kehilangan N ataupun keluarga saya. Tolonglah saya, Bu. Bagaimana saya harus bersikap? Terimakasih.

Komentar terhadap kasus tersebut :


Sebagai seorang anak, sebaiknya kita selalu mengharap keridoan dari kedua orang tua dan memenuhi perintah-perintahnya, sepanjang tidak untuk berbuat maksiat. Anak punya hak, ibu pun punya hak. Hak ibu adalah si anak berbakti dan berbuat baik kepadanya, memuliakan dan melayaninya, serta menunaikan seluruh haknya sebagai balasan atas segala yang dilakukan dan kebaikannya. Pada uraian kasus diatas, sebenarnya tidak perlu berlarut-larut apalagi hingga bertahun-tahun apabila sedari awal si anak mematuhi perintah ibunya. Bukankah ridho Allah tergantung pada ridho orang tua?

Mungkin, bagi si anak ini adalah keputusan yang berat pada awalnya. Tapi apabila dilandasi sikap ingin berbakti terhadap orang tua karena mengharapkan ridho-Nya, pastilah mudah bila ikhlas menjalaninya. Apalagi kasus di atas terjadi di Indonesia yang konon katanya memiliki 33 propinsi dengan 17.508 pulau dan 238 juta penduduk, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mencari penggantinya.

Solusi untuk kasus tersebut:
Menurut saya, ini adalah suatu kasus yang didasari dengan sifat egois dalam diri. Di satu sisi si ibu berisikukuh untuk tidak merestui hubungan anaknya karena berbagai alasan, di sisi lain si anak yang tidak bisa menerima alasan-alasan dari orang tuanya karena dia telah membuktikan sendiri kualitas dari pacarnya tersebut yang mana tidak membuktikan kebenaran dari alasan yang diberikan orang tuanya. Sehingga dapat dipastikan bahwa kasus seperti ini akan sangat merugikan dan akan berdampak besar pada runtuhnya sebuah keluarga. Oleh karena itu saya memberikan beberapa alternatif solusi dalam menyikapi kasus tersebut :
  1. Si anak dapat mengakhiri hubungannya dengan membicarakan secara baik-baik dengan dengannya dan pihak keluarganya. Apabila benar pihak keluarganya merupakan keluarga baik-baik yang taat beragama, tentu tidak akan terjadi dendam diantaranya. Kemudian mencari pengganti yang lebih baik yang direstui.
  2. Mengingat orang tua si anak tak bisa diajak bicara baik-baik mengenai wanita pilihan anaknya, mungkin membicarakannya bukanlah cara yang tepat. Solusinya adalah mematuhinya dan berbakti kepadanya. Siapa tau dengan menunjukkan sikap bakti kepada orang tua, suatu saat nanti dapat meluluhkan hatinya untuk bisa menerima wanita pilihannya sebagai istrinya kelak.
  3. Apabila si anak bersikukuh hanya ingin menikahi wanita tersebut, menunggu si ibu meninggal bukanlah solusinya. Dan solusi terbaik menurut saya ialah menyerahkan segalanya urusannya dengan memohon kepada Allah, karna hanya Dialah yang maha pemberi metunjuk dan maha membolak-balik hati manusia ciptaannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Tugas 2: Ilmu Budaya Dasar"

Posting Komentar