Hamudi Setiyawan Prabowo: Peranan Kacang Hijau Dalam Teknologi

Peranan Kacang Hijau Dalam Teknologi


Beberapa malam belakangan ini aku sering banget kelayapan tengah malam, selain untuk mencoba menikmati malam-malam kesendirianku, aku juga sedang menjalankan misi rahasia. Tapi semenjak tulisan ini terbit, ini bukanlah lagi misi rahasia. Apa itu? Ya, belakangan ini aku berwisata kuliner malam, mencari tempat yang menjual bubur kacang ijo terlezat di Jakarta Timur. Mungkin menurut kalian misiku kali ini terlalu sederhana, tidak kawan! Itu baru kamuflase, misi sesengguhnya adalah mencari kedai bubur kacang ijo yang menyediakan hotspot Wi-Fi gratis. Ngarep...


Ini semua berawal dari suatu hari dimana aku bingung karena berada di posisi antara sedih atau tertawa. Begini kisahnya, sore itu aku masih dalam jam kerja ketika tiba-tiba terlintas hasrat untuk bermain Facebook. Sempat sih terjadi kemelut dalam hati. Sebenarnya aku berusaha bersikap profesional dengan tidak main FB ketika masih jam kerja, tapi akhirnya aku menyerah pada firasatku untuk membukanya. Ketika terbuka kulihat ada 1 kotak masuk. Hatiku berdebar, berharap, sekaligus cemas. Entah kenapa, senang aja rasanya kalau pas buka FB melihat ada jejaknya meski hanya sekedar notifikasi saja. Sesederhana itu...  tapi apa yang terjadi? Ini bukan pesan dari dia melainkan dari teman kostku. Isinya kurang lebih begini “Wo, kontrakan kebanjiran. Air masuk sampai pergelangan kaki. Banyak barang yang gak sempat diselamatkan, termasuk komputermu”.


Ngomong-ngomong soal banjir, aku jadi ingat dengan tukang bubur kacang ijo keliling yang lewat depan rumah. Bukan karena rasanya yang selalu membuatku tak bisa melupakannya, tapi oleh labelnya yang tertulis tidak lengkap pada gerobaknya. Kalau dilihat dari depan tertulis “BUBUR KACA”, sedangkan “NG IJO”nya tertulis di sisi kanan gerobak. Mungkin dikarenakan luas bidang pada sisi depan tak memberinya cukup ruang untuk menuliskannya.


Kembali ke komputer yang tenggelam, langsung saja aku bergegas pulang, berharap masih bisa menyelamatkan atau sekedar memberi nafas buatan. Naas, ternyata matherboard dan processor nya korslet, aku menyesal. Selama ini aku mengajari komputerku itu gimana caranya menyelamatkan diri dari virus, worm, spyware, malware dan lain-lain tapi aku lupa untuk mengajarinya cara berenang. Kenapa disaat aku sedang membutuhkannya untuk tugas kuliah yang menumpuk, dia malah tewas. Dalam sedih aku bernyanyi, “Mau dibawa kemana... tugas-tugas ku...”


Harap tenang para pembaca yang budiman, ini bukan akhir petualanganku. Sebelumnya aku berencana untuk membeli PC desktop, sedikit demi sedikit aku sudah menyisihkan uang jajanku. Tapi karena insiden tersebut aku terpaksa merubah rencana, memang tabunganku tak akan cukup bila kubelikan PC desktop, tapi jika dengan sedikit memaksa aku masih bisa membeli netbook. Setelah surfing sana-sini, pilihanku jatuh pada HP Mini 110-3014 TU, netbook murah dengan spesifikasi yang lumayan. Waktu itu salesnya menawarkan yang 110-1169TU, “Mending yang ini aja mas, selisih harganya $10 lebih mahal, dengan spesifikasi yang sama tapi harddisknya lebih besar, 320 GB”, katanya. Tapi demi menyelamatkan kantong, dengan sedikit sombong kujawab “Bagi saya harga bukan masalah mbak, saya lebih tertarik pada spesifikasi dan warna cashingnya yang hitam, kalau soal harddisk, dirumah saya punya 2 terabytes”, dan sales itu pun terdiam.


Masalah datang! Karena netbookku tidak dibundle dengan Operating System (OS), maka aku harus menginstalnya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini akan menjadi kendala, tapi tidak bagiku. Memang aku gak punya DVD eksternal untuk nginstal OS, tapi aku punya teman! teman yang bersedia dipinjami DVD, namanya Alief Syahru (jangan lihat tampangnya, tapi lihat kebaikannya). Kemudian masalah berikutnya datang! Setelah beberapa hari, ada file yang terhapus sehingga windows tidak bisa booting. Mau pinjam DVD lagi males, rumahnya si Alief jauh, diluar zona peradaban umat manusia. Akhirnya saya mencoba cara install yang lebih menantang, yaitu menggunakan flashdisk. Caranya mudah, dengan meminjam laptop sepupu (namanya Ayu) flashdisk kuformat, kemudian kubuat menjadi bootable, selanjutnya copy semua file yang ada di CD instalasi. Setelah semua proses tersebut, flashdisk siap digunakan untuk proses instalasi.


Mencegah terjadinya kesalahan seperti sebelumnya, kuinstal 2 OS sebagai langkah pengamanan terhadap system, ada XP dan Seven. Jadi kalau Seven bermasalah, setidaknya bisa kuperbaiki dari XP atau sebaliknya. Meski keduanya bajakan tapi dengan sedikit trik keduanya jadi genuine plus bersertifikasi OEM dari HP. Kemudian kuinstal juga Microsoft Office bajakan, Norton Internet Security bajakan, Tune Up Utility bajakan dan tak lupa player untuk musik dan video, yang kebetulan juga bajakan. Kenapa sih softwaremu bajakan semua? Tidak! Saya juga punya yang asli. Apa itu? Smadav. Kenapa hanya Smadav yang asli? Karena hanya Smadav yang buatan orang Indonesia, sedangkan lainnya buatan orang luar, selain itu karena Smadav adalah freeware alias gratis. Maklumlah, anak kost macam aku manalah punya uang lebih buat membeli kemewahan atau sekedar meningkatkan gengsi.


Selanjutnya untuk pengamanan terhadap privasi, kuberikan password rahasia. Bahkan software pencuri password seperti Jack The Ripper pun tak akan bisa menjebol password rahasiaku ini. Aku berani menjamin, dengan memberi password “ireneadler” pada XP dan “123” pada seven, hacker kenamaan semacam Kevin Mitnick atau Eric Steven Raymaond pun tak akan berkutik untuk menerobosnya. Ups... rahasiaku terbongkar!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Peranan Kacang Hijau Dalam Teknologi"

Posting Komentar