Hamudi Setiyawan Prabowo: Cerita Bodoh
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bodoh. Tampilkan semua postingan

Surat Cinta Terindah

Hingar-bingar kendaraan berlalu-lalang memadati lalu lintas ibukota menjelang malam pergantian tahun 2012, yang semakin  gaduh oleh nyaring serak klakson dan terompet gocengan yang memekakkan telinga, saling bersahutan disepanjang ruas jalan yang kulalui. Belum lagi ditambah meriahnya rutinitas akhir tahun yang ditutup oleh bunyi petasan tak serempak yang menggema dari segala penjuru. Ledakan demi ledakkan dan indahnya percikan kembang api di langit Jakarta yang separo mendung itu membuatku teringat kembali akan sekeping kenangan manis masa SMA, tentang surat cinta pertamaku dari seorang gadis yang pernah kudamba. Lho apa hubungannya petasan ama surat cinta? Yah, namanya juga manusia, kentut boleh sama nyaringnya, tapi hati dan pikiran siapalah yang bisa menerkanya?

Ngomongin tentang surat, sepertinya kemajuan teknologi kini telah menggeser budaya korespondensi yang dulu begitu populer. Segalanya kini telah tergantikan dengan berbagai hal yang serba praktis dan singkat. Dimulai dengan surat elektronik atau email, SMS, chatting dan lain sebagainya. Tidak hanya waktu pengiriman yang semakin singkat, tren singkat-menyingkat itu berimbas pada isi sebuah surat. Misalnya dulu untuk mengungkap perasaan kepada seseorang, minimal kita butuh 3 kata "Aku cinta padamu", tapi  kini cukup hanya dengan 1 kata saja "ILU". Bahkan konon di tahun 2020 kelak akan muncul fenomena dimana setiap bayi memiliki nama yang hanya terdiri dari satu kata yang sangat singkat dan itupun dimulai dengan simbol "@", misalnya @hsprabowo gitu. Eh ada sms masuk... kubaca dulu ya! Ntar disambung lagi.
...
Maaf, sampai dimana tadi? Oh iya, tentang surat cinta. Aku punya kisah tentang surat cinta pertamaku yang entah kenapa semakin aku berusaha untuk melupakannya, rasanya kok makin sulit saja. Ada rindu terpendam yang kadang membuatku tertawa, sedih, haru, berdebar, senang, dan bangga, berkecamuk saling beradu. Begini, di suatu siang yang cerah datanglah Pak Pos mengantarkan sepucuk surat yang ditujukan kepadaku. Aku terkejut membaca nama pengirimnya. Mataku menatap girang, hatiku senang, pikiranku melayang, jauh menembus awang-awang. Cocok banget deh tuh ama lagunya Vina Panduwinata yang "Hari ini kugembira.. Pak Pos melayang di udara.." nah lho... Gimana lanjutannya?

Perekat surat perlahan kubuka, berusaha tak merusak amplopnya. Kubaca basmalah, kemudian takbir, tahmid, dan tak lupa syahadat. Kesan pertama: “Wow... tulisannya indah, seindah monotype corsiva”.  Satu... dua... dan tiga... kumulai membaca...!! Kata demi kata, paragraf demi paragraf, kemudian diulang lagi dari awal. Tapi apa ternyata? Tak ada satu pun kata yang mengungkapkan rasa cinta, bahkan yang tesirat pun tak ada. Kuraba lagi amplop surat hingga ke bagian terdalam, berharap ada attachment nyelip disana. Dan sekali lagi ku harus kecewa. Ternyata yang kuterima bukanlah surat cinta, melainkan surat biasa layaknya surat dari seorang sahabat pena, ya sahabat pena yang memiliki pena datar, sedatar keyboard. Aku pun hanya bisa tertawa, tawa yang pahit dirasa (jiah, ketawa aja pahit gimana kalo cemberut).

Telah berlalu seminggu, tapi masih saja surat itu membuatku penasaran. Aku masih membacanya, entah untuk yang keberapa kali. Kuterawang, kubaca secara terbalik, secara silang, menghilangkan gugus konsonan, suku kata, mencoba berbagai enkripsi , dengan chipertext, transposisi maupun substitusi, dan berbagai teknik kriptografi yang kuketahui, berharap terselip teka-teki terselubung dalam suratnya. Hingga akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan, kesimpulan yang membuatku kecewa sekaligus senang, senang karena dia sama sekali tak memberiku harapan semu. Ibarat ingus, kan lebih baik dibuang daripada membiarkannya tergantung di hidung. Ini menyadarkanku bahwa akulah yang terlalu banyak berharap lebih, menyadarkanku bahwa mengharapkan segala sesuatu secara berlebihan itu tak baik.

Aku pun mundur teratur, bukan kalah dan bukan pula menyerah. Tapi karena aku meyakini, bila seseorang telah menutup hatinya dariku, maka akan ada orang lain yang telah membukakan hatinya untukku (waktu itu kebetulan dapat gebetan baru). Terima kasih, setidaknya itu adalah surat terindah yang pernah kuterima (selain SK pengangkatan), bukan isinya yang membuatnya indah, melainkan berbagai proses mendebarkan yang telah kulalui, hingga berakhir pada kesimpulan yang kudapati, tentang pembelajaran diri dan tentang menemukan kriteria wanita sejati. Sederhana saja, wanita sejati itu selalu setia, selalu mengerti, selalu sabar, selalu percaya, selalu menunggu, selalu menarik, dan selalu saja sudah ada yang punya.

Sidang pembaca yang budiman, pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa selalu berpikir positif itu menyenangkan, setidaknya bisa menentramkan, serta dapat mencegah berbagai penyakit hati. Sebagai penutup, ada kutipan yang kusuka dari A.A. Gym: “Jagalah hati, jangan kau nodai”. Asal tau saja, noda membandel itu lebih mudah dihilangkan dibanding dinodai karena bandel. Dan sebagai pesan singkat-menyingkat terakhirku, inilah satu kata untuk kalian, “Selamattahunbarusemogaditahuninitercapaiapayangkitainginkan”.

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Teknik Merayu Efektif Dengan Gombal Kreatif

Gombal
Terkadang saya dibuat prihatin melihat kelakuan anak muda jaman sekarang (sok tua), mereka sering melontarkan kata tanpa berpikir apa akibatnya, lebih fatal lagi kalau mereka sendiri tidak mengetahui apa yang dikatakannya. Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyatakan bahwa: rayuan dengan permainan kata akan lebih efektif dibanding dengan menggombal, apalagi gombalnya boleh ngopy punya orang. Perlu kalian garis bawahi, saya bukanlah seorang penggombal, saya hanyalah seorang perayu amatir yang mencoba untuk berbagi. Lalu apa bedanya menggombal dan merayu? Saya pun tak lebih tau dari anda. Sama halnya ketika ditanya apa beda es campur dan es teler? Sebagian orang mungkin menganggapnya sama saja, toh enak tidaknya kedua rasa minuman tersebut sifatnya relatif. Karena yang mutlak enak itu ya kalau ditraktir. Lantas apa hubungannya antara merayu dan es teler? Tenang, saya akan menjelaskan bagian itu nanti.


Suatu hari ada sebuah pertanyaan klasik dari seorang eksentrik yang membuat jariku tergelitik untuk mengetik, semoga menarik meski hanya secarik. Sebut saja namanya Harsono (bukan nama sebenarnya), dia bertanya “Kalo cowo suka add cewe trus comment di pict cewe bikin sebel si cewe gak Wo?”. Waktu itu kujawab “Jelas aja bikin sebel, apalagi cowok tersebut gak ganteng atau bukan tipe idamannya. Tapi yang lebih nyebelin lagi kalo komennya cuma sekedar gombalan kuno. Ngegombal pun juga harus ada ilmunya, ada seninya mas...”. Sebenarnya waktu itu saya asal jawab saja, tapi setelah saya renungkan, bisa jadi ada juga benarnya. Saya sendiri tak mau berspekulasi tanpa fakta, menurutku segala kemungkinan itu (meskipun kecil) layak dianalisa.


Iseng-iseng saya pun mencari tau kalimat apa yang dia pakai ketika berkomentar, cukup gombal juga sih, tapi tidak cukup untuk membuat sesorang terkesan. Menurutku, suatu pujian yang didasari atas daya tarik fisik seseorang itu justru malah menunjukkan kebodohannya sendiri, bodoh karena tidak bisa melihat kelebihan dari daya tariknya yang lain. Sanjunglah yang lain tapi hindarilah memuji kecantikannya, misalnya ketika memuji sikapnya, kita bisa berkata “Aku terkesan dengan caramu tersenyum... unyu! seperti orang kentut gak ketahuan”. Terkadang ketika menggombal, seseorang lupa memperhitungkan reaksi apa yang akan didapatkan. Ini akan berbeda bila kita telah memperhitungkan segala kemungkinan, sehingga apapun reaksi atau tanggapan dari lawan bicara, masih berada dalam kontrol kita untuk mengarahkan pembicaraan. Ini hanya teknik dasar, selebihnya tergantung dari kreatifitas anda sendiri.


Ada ungkapan “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda!”. Saya sendiri tak bisa menampik fakta bahwa fisik merupakan modal utama untuk menarik perhatian lawan jenis. Yang merasa gak ganteng jangan dulu kecewa, menurut pengakuan seorang wanita, “Ketika wanita merasa nyaman dengan seseorang, maka fisik menjadi nomor sekian”. Ganteng itu relatif bro, tapi jelek itu mutlak. Orang yang secara fisik tidak memadai, contohnya saya (boro-boro dibilang cakep, masuk kategori cowok biasa-biasa aja masih belum layak), perlu berpikir selangkah lebih maju untuk bisa membangkitkan rasa penasaran, atau rasa ingin tau dari lawan bicara. Tidak hanya kepada wanita, cara ini pun berlaku bagi siapa saja. Misalnya untuk membuat dosen terkesan, kita bisa bilang ke dia “Beruntung sekali saya punya dosen seperti bapak, penjelasan bapak sangat berbobot dan mudah kami pahami” atau dengan gombalan yang lebih kreatif lagi ( meskipun faktanya tidak sepert itu). Yah, siapa tau sang dosen jadi gak pelit ke kita kalo ngasih nilai.


Mungkin kita akan berspekulasi terhadap jawaban dari seseorang atas pertanyaan yang kita ajukan. Bagaimana solusinya? Yaitu dengan memberikan pertanyaan yang tepat untuk mendapatkan jawaban yang kita inginkan. Misalnya ketika menawarkan kepada teman dengan bertanya “Mau makan apa?”, kita bisa menemukan 1001 kemungkinan jawaban. Ini bukan suatu masalah bila kamu punya uang berlebih. Jika uangmu pas-pasan, tapi ingin sekali mentraktirnya, kamu bisa pakai cara saya. Yaitu dengan bertanya “Mau makan bakso ato mie ayam?”, dengan begitu kita telah menyederhanakan berbagai jawaban menjadi 2 kemungkinan. Kalau cara ini gagal, saya masih punya alternatif yang lain. Misalnya teman kita menolak pilihan yang kita berikan dan ngotot pengin ditraktir direstoran mahal, lalu bagaimana cara menyikapinya? Tenang, sebelum menuju restoran yang dimaksud, mampirlah dulu beli es teler. Saya jamin temenmu itu bakal teler kekenyangan sebelum sampai tempat tujuan.


Kalimat gombal tidaklah selalu ditujukan untuk merayu, tapi bisa juga untuk mengkritik seseorang tanpa harus melukai perasaan. Contohnya temanku ini, namanaya Dyah (bukan nama sebenarnya) nama aslinya sih Tami. Saya bilang ke dia “Tam, cowok lu tajir ya?”, “Ah, enggak... kata sapa?”, lalu kupandang dia dari bawah keatas, sambil asik ngupil kukatakan “kok kelihatannya kesejahteraan lu terjamin!”. Kalau orang biasa mungkin akan mengira kalimatku tadi pujian, berhubung Dyah ini orangnya cerdas, dia langsung menangkap maksud terselubungnya. “Emang keliatan banget ya kalo berat gue nambah?”, aku diam terhenyak, takjub memandang upil yang barusan kutemukan, pura-pura tak mendengar pertanyaannya. Dia bertanya lagi “Emangnya gue keliatan jelek ya?”. Kusimpan lagi upil ke hidung, dengan memasang wajah serius, kemudian mulai menggombal “Lu tetep cantik kok! Bahkan makin hari lu makin cantik, cuma lu belum menemukan baju yang pas aja untuk dikenakan...”.


Banyak wanita yang menyatakan bahwa dirinya tak suka pria gombal, saya gak yakin ini pernyataan jujur. Tak suka orangnya kan bukan berarti tak suka gombalannya, tak suka juga bukan berarti tak ingin. Iya tidak? (Aa’ Gim mode: ON). Sejatinya semua wanita senang dirayu, ini sebagai barometer bahwa mereka masih laku. Saya sendiri tak tertarik pada wanita yang mudah termakan gombal, biasanya wanita dengan klasifikasi seperti itu seperti boneka Barbie, cantik tapi otaknya kosong! Menurutku, wanita yang cerdas itu seksi. Tidak seperti pria, wanita itu berpikir dengan mengutamakan kepekaan hatinya, maka rayulah ia dengan hati pula. Bila anda tak suka berbasa-basi atau tak siap dengan spekulasi, bisa anda gunakan cara yang saya jelaskan sebelumnya, yaitu dengan tidak membiarkannya mencari pilihan tapi andalah yang memberinya pilihan. Misalnya dengan bertanya “Kamu mau langsung menikah denganku atau mau pacaran dulu?”.


Sebagai penutup, ini hanyalah kalimat gombal buat hiburan, jangan dijadikan bahan acuan. Tujuannya semata-mata untuk menyenangkan hati orang lain, bukan bualan kata pujian yang berlebihan. Tidak semua kalimat gombal ditujukan untuk merayu, apalagi menganggapnya sebagai ungkapan cinta. Sejatinya cinta itu bukan rangkaian kata, karena hanya cinta sendirilah yang bisa menjelaskan cinta itu apa. Sebagai gambaran, semua orang bisa saja berkata mencintai Tuhannya, tapi belum tentu pada kenyataannya. Bagaimana cara kita mengetahuinya? Orang yang mencintai Tuhannya, akan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi Larangan-Nya. Lalu bagaimana dengan cinta anda?

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Peranan Kacang Hijau Dalam Teknologi


Beberapa malam belakangan ini aku sering banget kelayapan tengah malam, selain untuk mencoba menikmati malam-malam kesendirianku, aku juga sedang menjalankan misi rahasia. Tapi semenjak tulisan ini terbit, ini bukanlah lagi misi rahasia. Apa itu? Ya, belakangan ini aku berwisata kuliner malam, mencari tempat yang menjual bubur kacang ijo terlezat di Jakarta Timur. Mungkin menurut kalian misiku kali ini terlalu sederhana, tidak kawan! Itu baru kamuflase, misi sesengguhnya adalah mencari kedai bubur kacang ijo yang menyediakan hotspot Wi-Fi gratis. Ngarep...


Ini semua berawal dari suatu hari dimana aku bingung karena berada di posisi antara sedih atau tertawa. Begini kisahnya, sore itu aku masih dalam jam kerja ketika tiba-tiba terlintas hasrat untuk bermain Facebook. Sempat sih terjadi kemelut dalam hati. Sebenarnya aku berusaha bersikap profesional dengan tidak main FB ketika masih jam kerja, tapi akhirnya aku menyerah pada firasatku untuk membukanya. Ketika terbuka kulihat ada 1 kotak masuk. Hatiku berdebar, berharap, sekaligus cemas. Entah kenapa, senang aja rasanya kalau pas buka FB melihat ada jejaknya meski hanya sekedar notifikasi saja. Sesederhana itu...  tapi apa yang terjadi? Ini bukan pesan dari dia melainkan dari teman kostku. Isinya kurang lebih begini “Wo, kontrakan kebanjiran. Air masuk sampai pergelangan kaki. Banyak barang yang gak sempat diselamatkan, termasuk komputermu”.


Ngomong-ngomong soal banjir, aku jadi ingat dengan tukang bubur kacang ijo keliling yang lewat depan rumah. Bukan karena rasanya yang selalu membuatku tak bisa melupakannya, tapi oleh labelnya yang tertulis tidak lengkap pada gerobaknya. Kalau dilihat dari depan tertulis “BUBUR KACA”, sedangkan “NG IJO”nya tertulis di sisi kanan gerobak. Mungkin dikarenakan luas bidang pada sisi depan tak memberinya cukup ruang untuk menuliskannya.


Kembali ke komputer yang tenggelam, langsung saja aku bergegas pulang, berharap masih bisa menyelamatkan atau sekedar memberi nafas buatan. Naas, ternyata matherboard dan processor nya korslet, aku menyesal. Selama ini aku mengajari komputerku itu gimana caranya menyelamatkan diri dari virus, worm, spyware, malware dan lain-lain tapi aku lupa untuk mengajarinya cara berenang. Kenapa disaat aku sedang membutuhkannya untuk tugas kuliah yang menumpuk, dia malah tewas. Dalam sedih aku bernyanyi, “Mau dibawa kemana... tugas-tugas ku...”


Harap tenang para pembaca yang budiman, ini bukan akhir petualanganku. Sebelumnya aku berencana untuk membeli PC desktop, sedikit demi sedikit aku sudah menyisihkan uang jajanku. Tapi karena insiden tersebut aku terpaksa merubah rencana, memang tabunganku tak akan cukup bila kubelikan PC desktop, tapi jika dengan sedikit memaksa aku masih bisa membeli netbook. Setelah surfing sana-sini, pilihanku jatuh pada HP Mini 110-3014 TU, netbook murah dengan spesifikasi yang lumayan. Waktu itu salesnya menawarkan yang 110-1169TU, “Mending yang ini aja mas, selisih harganya $10 lebih mahal, dengan spesifikasi yang sama tapi harddisknya lebih besar, 320 GB”, katanya. Tapi demi menyelamatkan kantong, dengan sedikit sombong kujawab “Bagi saya harga bukan masalah mbak, saya lebih tertarik pada spesifikasi dan warna cashingnya yang hitam, kalau soal harddisk, dirumah saya punya 2 terabytes”, dan sales itu pun terdiam.


Masalah datang! Karena netbookku tidak dibundle dengan Operating System (OS), maka aku harus menginstalnya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini akan menjadi kendala, tapi tidak bagiku. Memang aku gak punya DVD eksternal untuk nginstal OS, tapi aku punya teman! teman yang bersedia dipinjami DVD, namanya Alief Syahru (jangan lihat tampangnya, tapi lihat kebaikannya). Kemudian masalah berikutnya datang! Setelah beberapa hari, ada file yang terhapus sehingga windows tidak bisa booting. Mau pinjam DVD lagi males, rumahnya si Alief jauh, diluar zona peradaban umat manusia. Akhirnya saya mencoba cara install yang lebih menantang, yaitu menggunakan flashdisk. Caranya mudah, dengan meminjam laptop sepupu (namanya Ayu) flashdisk kuformat, kemudian kubuat menjadi bootable, selanjutnya copy semua file yang ada di CD instalasi. Setelah semua proses tersebut, flashdisk siap digunakan untuk proses instalasi.


Mencegah terjadinya kesalahan seperti sebelumnya, kuinstal 2 OS sebagai langkah pengamanan terhadap system, ada XP dan Seven. Jadi kalau Seven bermasalah, setidaknya bisa kuperbaiki dari XP atau sebaliknya. Meski keduanya bajakan tapi dengan sedikit trik keduanya jadi genuine plus bersertifikasi OEM dari HP. Kemudian kuinstal juga Microsoft Office bajakan, Norton Internet Security bajakan, Tune Up Utility bajakan dan tak lupa player untuk musik dan video, yang kebetulan juga bajakan. Kenapa sih softwaremu bajakan semua? Tidak! Saya juga punya yang asli. Apa itu? Smadav. Kenapa hanya Smadav yang asli? Karena hanya Smadav yang buatan orang Indonesia, sedangkan lainnya buatan orang luar, selain itu karena Smadav adalah freeware alias gratis. Maklumlah, anak kost macam aku manalah punya uang lebih buat membeli kemewahan atau sekedar meningkatkan gengsi.


Selanjutnya untuk pengamanan terhadap privasi, kuberikan password rahasia. Bahkan software pencuri password seperti Jack The Ripper pun tak akan bisa menjebol password rahasiaku ini. Aku berani menjamin, dengan memberi password “ireneadler” pada XP dan “123” pada seven, hacker kenamaan semacam Kevin Mitnick atau Eric Steven Raymaond pun tak akan berkutik untuk menerobosnya. Ups... rahasiaku terbongkar!

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kutemukan Diriku Dalam Barbershop



Seperti hari-hari sebelumnya dimana aku dibuat geli sendiri oleh rambutku yang mulai memanjang, tak lain dan tak bukan sebagai solusi yang efektif aku pergi mencukur rambutku. Dengan bensin seliter (selalu seliter, tak kurang tak lebih) motorku kustarter hendak kubawa muter-muter, menyusuri jalanan dengan kecepatan 60 km/jam dengan destination barbershop langgananku. Sebuah tempat cukur dengan motto "Rapi, Bersih, Sehat, dan Nyaman" yang menawarkan inovasi berupa service yang nyaman, ruangan berAC, di ruang tunggu kita bisa membaca tipi maupun menonton majalah yang telah disediakan panitia. Karyawannya pun merupakan orang-orang terpilih yang berpengalaman lebih dari 5 tahun (ngga jelas pengalaman dalam bidang apa). Selain itu, hal yang membuatnya berbeda dengan tukang cukur pinggir jalan yaitu sisir sekali pakai, pisau cukur sekali pakai, dan handuk hangat yang juga sekali pakai. Konon katanya, penggunaan alat-alat cukur yang tidak higienis, membuka peluang tertularnya virus HIV, H5N1, H1N1, W32, Trojan, maupun Spyware.
Sebelum masuk ruang penjagalan rambut, kutengok terlebih dahulu, apakah si 'dia' sedang bertugas atau tidak. Kulihat dari luar dia sedang mencukur rambut om-om berkepala botak. Heran, tuh kepala om-om luas bidang yang ditumbuhi rambut cuma 6 x 7 inch pake dicukur segala. Daripada menunggu di dalam, lebih baik aku menunggu diluar sambil menikmati ice juz alpukat hangat. Sepuluh menit berlalu, kemudian kutengok lagi arena pemangkasan. Masya Allah… si botak itu pake minta dicukurin kumisnya… kumis kayak Hitler gitu mau dibikin apa lagi sih?
Sebenarnya masih ada tukang cukur yang lain, tapi entah mengapa aku lebih nyaman bila yang mencukurku adalah si mba yang sedang mempermak kumis Charlie Chaplin yang berperan jadi orang botak itu. Apa aku cemburu? Bukan sobat, aku bukan cemburu… lagian dia bukanlah tipeku. Memang dia cantik, tapi masih kalah cantik ama anak si pemilik barbershop. Memang jarinya lentik gemulai, tapi masih kalah lembut ama belaian ibuku. Lalu apa? Yup, bukan cantik, bukan pula jari yang lentik, dan juga bukan belaiannya yang menggelitik, yang selalu membuatku kepingin dicukur sama dia lagi, lagi, dan lagi… tapi suaranya yang lembut itulah yang menjadi daya tariknya. Sangat lembut bahkan terlalu lembut sehingga nyaris tak terdengar. Itulah yang menjadi alasanku untuk mendekatkan wajahku pada posisi lima centi dekat bibirnya, berpura-pura seakan aku ingin mendengar suaranya lebih jelas. Dan apabila dia mendesah… Ampun DJ… udara lembut menggelitik indra pendengaranku. Belum lagi aroma khas yag keluar dari bibir mungilnya itu… bukanlah aroma rokok, alkohol, maupun sejenisnya kawan. Bukan pula aroma segar seperti iklan permen mint atau obat kumur di tipi, aroma itu begitu khas… yaitu aroma daun sirih.
Kulihat si botak itu keluar dengan kepala barunya yang mengkilap cling.. cling.. cling.. ditimpa sinar mentari. Akupun mulai masuk, "Hai mba… biasa cukur…". "Maaf mas, saya mau sholat Ashar dulu, cukurnya sama mas Hendra aja ya..". Yah, aku kecele… mau ngga mau aku terpaksa merelakan rambut indahku dijamah oleh mas-mas yang sepertinya masih karyawan baru itu. Dengan malas-malasan aku duduk dikursi, kemudian mas-mas itu memakaikan jubah khas para tukang pangkas rambut membalut tubuhku kecuali leher keatas. Layar terbentang, lampu-lampu dimatikan, suara lagu pengantar terdengar keras mengalun dari speaker-speaker yang tertempel di dinding, kemudian sebuah sinar dari proyektor jatuh menimpa layar, mencitrakan sosok-sosok manusia… halah itu mah keadaan di bioskop… sori pren, mungkin aku terlalu berimprovisasi…
Setelah basa-basi yang menurutku sangat basi si mas tukang cukur itu bertanya "Mau di cukur model apa bang?". Karena suasana hatiku yang bad mood, aku menjawab sekenanya, lebih tepatnya balik bertanya "Bagusnya di model apa?". Tak kalah sewot dia menjawab "Dipendekin aja ya… soalnya rambut abang tuh udah jelek dari sononya, mau dimodel apapun kayaknya juga mentok". Brengsek… tukang cukur itu bikin aku gemes pingin ngegorok lehernya pake gunting kuku, dan kemudian aku menjawab "Ya udah… dibikin berantakan aja deh". Dengan gerakan yang tak terduga, mas-mas itu menyontol kepalaku seraya berkata "Ah… abang bisa aja becandanya" . Sialan lu, elu kira kepala gue sansak? Untung aja dia cowo, bukan siluman pertengahan, lagian posturku kalah tegap dibanding dia. Makanya aku cuma diam saja, sambil tersenyum kecut.
Tak terlalu mengecewakan, hasil cukurannya sedikit lebih bagus ketimbang si mba langganan cukurku (sedikit lebih bagus berarti banyak jeleknya). Tapi tak apalah, akupun tak mengingkari kalau rambutku memang sedikit jelek dari sananya. Sebenarnya sih rambutku lumayan bagus, mungkin kalau agak panjang, sedikit mirip Ridho Rhoma (sedikit). Padahal, kalau aku boleh jujur, penampilan keseluruhanku lebih baik dari Nicholas Saputra. Yang baca dilarang protes…
Yup, itulah aku. Pria yang memiliki gaya potongan rambut yang tak pernah berubah dari dulu. Tak pernah mengikuti mode, bahkan dalam berpakaian pun paling banter cuma t-shirt sama celana jeans. Aku lebih suka berpakaian sederhana, simple, enak dipakai, enggak ribet, dan sedikit casual, ingat… sedikit. Setidaknya aku punya pendirian dalam hal berpenampilan, bukan budak mode yang plin-plan dan tergantung sama musim, majalah, maupun sinetron. Kalau ngeliat temenku yang pake celana model pensil, yang selalu terbersit dalam benak 'pasti burungnya di dalam tuh kehabisan oksigen'. Yang paling bikin ilfil tuh kalau ngeliat orang yang pakai celana cuma nyangkut di pinggul. Ampun deh… mana dalemannya buluk lagi, yang lebih fatal kalau si pemakai itu cewe. Bukannya aku munafik, aku sih seneng-seneng aja dapat tontonan gratis, mending yang ngeliat aku yang notabene masih bisa nahan nafsu, kalau enggak… udah diperkosa bolak-balik sama ahlinya tuh. Aku yakin, tuh orang pasti sudah kehilangan urat kemaluan (maksudnya tak punya malu.red).
Mungkin banyak (ini baru mungkin lho, kayaknya sih enggak) yang mengatakan aku norak, kolot, kuper, de.. el.. el.. terserahlah. Tapi bagiku, ini adalah prinsip bung! Banyak orang yang saling meneriakkan serta mempertahankan prinsip yang dianutnya, tapi hidup dengan prinsip yang dianut itu susah mba, mas. Sebagian orang merasa minder dengan penampilannya, mereka minder bila terlihat tidak cantik atau seksi. Percayalah, kalau ada orang yang mencintaimu karna rupamu yang menawan, maka cinta itu akan luntur seiring lunturnya kecantikan atau ketampananmu. Berlian walaupun habis jatuh ke comberan, harganya masih tetap mahal non. Aku jadi sedih melihat mereka yang malu akan keadaannya, tapi tenang aja hal itu tidak pernah terjadi denganku, mungkin karena sifatku yang over pede… bahkan ada juga orang yang iri denganku, seperti biasa… apa yang menurutku adalah kekuranganku, tapi bagi orang lain itu adalah kelebihan buatnya dan itu cita-citanyai. Be your self…

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Realitanya ngga gitu!!!

Entah kenapa setelah gw membaca curhatan orang di Facebook, gw jadi teringat dan pengen bercerita akan kisah tragis yang dialami ama sodara sepupu gw. Sebut saja namanya Romeo (bukan nama sebenarnya), nama sebenarnya sih Setya Harmono.
Alkisah Romeo adalah seorang pemuda dengan perawakan layaknya seorang atlit, memang sih dia pernah menyabet runner up dalam kejuaraan adu bebas se Indonesia mewakili daerah Ngawi. Dia juga pemuda yang disegani di daerahnya karena kepiawaiannya dalam beladiri, jagoan lah. Seperti umumnya seorang centeng, dalam menyelesaikan masalah lebih suka dengan cara fisik. Hal inilah yang menyebabkan cewe dari kalangan baik-baik enggan menjalin hubungan dengannya.
Mungkin karena citranya yang seperti preman, misalnya apabila naik angkutan umum, dia cukup dengan melambaikan tangan sebagai pengganti tarif. Tapi percayalah, dia bukan tipe cowo yang berani menentang ibunya, bahkan bila seandainya ibunya menyuruh ia untuk mengarungi samudra pasific, maka dengan patuh dia akan melaksanakannya. Tapi namanya nakal tetaplah nakal, dan kenakalan itu akan berakibat pada nasibnya kelak.
Suatu hari dia berkenalan dengan seorang cewe, yang juga merupakan kembang desa, sepertinya dia dapat dikategorikan "cantik" dari sudut pandang penampilan. Sebut saja namanya Juliet (juga bukan nama sebenarnya), nah kalo yang ini penulis bener-bener lupa. Hubungan mereka mulanya tidak disetujui oleh orang tua si gadis, namun karena kepiawaiannya dalam berbahasa jawa krama inggil yang baik dan benar, akhirnya sang ayah percaya bahwa dia adalah cowo yang bertanggung jawab pada anaknya, jujur dapat dipercaya, mampu menghormati orang tua, punya pengaruh yang besar, dan pastinya dari kalangan berada. Alhasil hubungan antara Romeo dan ayah si gadis layaknya seorang teman.
Romeo sangat mejunjung tinggi kehomatan Juliet, ia tidaklah memanfaatkan kesempatan yang ada dengan mengikuti bisikan setan. Tidak menodai kesuciannya, ngga seperti yang kujumpai selama tinggal di Jakarta yang pagi berjumpa, siang menyusuri jalan sambil pegang tangan, sore bersilat lidah mengadu kepiawaian bercumbu, malam bertempur mesra, dan besok pagi sadar kalau mereka lupa kenalan. Inilah sikap sejati pria yang memuliakan wanita, pria yang bisa memanusiakan manusia.
Romeo ini juga merupakan tipe cowo pencemburu, yang jeleknya tidak segan untuk memamerkan jurusnya kepada cowo yang dilihatnya sengaja menggoda Juliet. Menurutku Juliet menerima cinta Romeo karena dia merasa aman dan terlindungi. Bayangin aja, semenjak mereka jadian, tidak ada lagi cowo yang berani menggoda Juliet, yah tentu saja kecuali orang yang ngga tau.
Untuk menggapai cita-cita, pergilah Romeo ke Jakarta untuk menjadi TNI. Maklumlah, garis keluarga gw adalah satria. Sejak zaman Majapahit, moyang gw adalah seorang prajurit dengan pangkat senopati. Mungkin secara bawah sadar memiliki jiwa bela negara yang besar, begitu pula dengan gw, tapi jujur gw ngga ada minat untuk menjadi angkatan, gw paling benci rutinitas dan kehidupan monoton. Kembali kekisah kita, berbagai tes telah diikuti oleh Romeo untuk diterima sebagai abdi negara. Namun karena sebuah penyakit yang dia derita, ia harus menelan pil pahit yang bernama kekecewaan. Ia harus pulang ke kampung tanpa baju loreng dan baret.
Tak mau berlarut dalam kekecewaan, dia pergi menemui Juliet sang pujaan hati, tempat berlabuh perahu kerinduan, melemparkan sauh kasih sayang, dan menambatkan tambang pengikat perahu cinta mereka agar tak lepas lagi. Kepada Julietlah dia akan berbagi keluh kesah, pengorbanan dari perjalanan panjang pencarian jati diri. Dengan bangga ia akan bercerita, bahwa kegagalan kali ini adalah kegagalannya yang sukses. Yup, Romeo berhasil menemukan bagian dari dirinya yang selama ini hilang, yaitu sikap lapang dada, kesabaran dalam bertindak, dan memberi maaf kepada orang lain.
Dengan langkah tegap bak prajurit menang perang sambil menenteng harta rampasan, ia menuju rumah Juliet. Namun apa yang terjadi, janur kuning telah melengkung, tenda berdiri megah, meja kursi tersusun rapi, para sesepuh ngudud sambil ngopi. Ini bukanlah acara khusus yang diadakan untuk menyambut kedatangannyanya, ini lebih mirip resepsi perkawinan. Akhirnya dia duduk di deretan kursi paling belakang, diam terpaku mematung dalam kebingungan. Tak lama kemudian, datanglah ayah Juliet dengan tergopoh dan tak kuasa membendung air mata yang tumpah. Dan ia bercerita dengan didampingi pak RT, pak RW, pak KaDes, dan juga pak Camat, katanya "anakku hamil tiga bulan dengan orang yang kini jadi suaminya, aku minta maaf karena tak bisa menjaga anakku sepeninggalmu, kumohon dengan sangat agar kamu bisa ikhlas menerimanya". Pak KaDes menambahkan "jangan kau balas kebencianmu dengan kekerasan". Pak haji menambahkan "Allah mencintai orang-orang yang sabar". Romeo menjawab "injih pak!! kalau begitu saya pamit dulu, udah dari tadi nahan kebelet pengen berak".
JDUUAARRR, bagai petir di siang bolong, Romeo pergi dengan membawa dua kekecewaan. Pertama, kekasih pergi diambil orang. Kedua, ia pergi ke kondangan tapi lupa makan. Nasib... Nasib... Yah apa boleh buat, nasir sudah jadi tukang bubur. Janji ingin jadi cowo baik-baik telah menguap bersama teriknya mentari. Wanita yang dianggapnya imut, lugu, alim dan suci itu ternyata ular berbisa. "Tau begini, sebelum ke Jakarta kusemai dulu benih cintaku di ladangnya"... Anjriiit...

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS