Hamudi Setiyawan Prabowo: Hitam Putih Kehidupan
Tampilkan postingan dengan label Hitam Putih Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hitam Putih Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Surat Cinta Terindah

Hingar-bingar kendaraan berlalu-lalang memadati lalu lintas ibukota menjelang malam pergantian tahun 2012, yang semakin  gaduh oleh nyaring serak klakson dan terompet gocengan yang memekakkan telinga, saling bersahutan disepanjang ruas jalan yang kulalui. Belum lagi ditambah meriahnya rutinitas akhir tahun yang ditutup oleh bunyi petasan tak serempak yang menggema dari segala penjuru. Ledakan demi ledakkan dan indahnya percikan kembang api di langit Jakarta yang separo mendung itu membuatku teringat kembali akan sekeping kenangan manis masa SMA, tentang surat cinta pertamaku dari seorang gadis yang pernah kudamba. Lho apa hubungannya petasan ama surat cinta? Yah, namanya juga manusia, kentut boleh sama nyaringnya, tapi hati dan pikiran siapalah yang bisa menerkanya?

Ngomongin tentang surat, sepertinya kemajuan teknologi kini telah menggeser budaya korespondensi yang dulu begitu populer. Segalanya kini telah tergantikan dengan berbagai hal yang serba praktis dan singkat. Dimulai dengan surat elektronik atau email, SMS, chatting dan lain sebagainya. Tidak hanya waktu pengiriman yang semakin singkat, tren singkat-menyingkat itu berimbas pada isi sebuah surat. Misalnya dulu untuk mengungkap perasaan kepada seseorang, minimal kita butuh 3 kata "Aku cinta padamu", tapi  kini cukup hanya dengan 1 kata saja "ILU". Bahkan konon di tahun 2020 kelak akan muncul fenomena dimana setiap bayi memiliki nama yang hanya terdiri dari satu kata yang sangat singkat dan itupun dimulai dengan simbol "@", misalnya @hsprabowo gitu. Eh ada sms masuk... kubaca dulu ya! Ntar disambung lagi.
...
Maaf, sampai dimana tadi? Oh iya, tentang surat cinta. Aku punya kisah tentang surat cinta pertamaku yang entah kenapa semakin aku berusaha untuk melupakannya, rasanya kok makin sulit saja. Ada rindu terpendam yang kadang membuatku tertawa, sedih, haru, berdebar, senang, dan bangga, berkecamuk saling beradu. Begini, di suatu siang yang cerah datanglah Pak Pos mengantarkan sepucuk surat yang ditujukan kepadaku. Aku terkejut membaca nama pengirimnya. Mataku menatap girang, hatiku senang, pikiranku melayang, jauh menembus awang-awang. Cocok banget deh tuh ama lagunya Vina Panduwinata yang "Hari ini kugembira.. Pak Pos melayang di udara.." nah lho... Gimana lanjutannya?

Perekat surat perlahan kubuka, berusaha tak merusak amplopnya. Kubaca basmalah, kemudian takbir, tahmid, dan tak lupa syahadat. Kesan pertama: “Wow... tulisannya indah, seindah monotype corsiva”.  Satu... dua... dan tiga... kumulai membaca...!! Kata demi kata, paragraf demi paragraf, kemudian diulang lagi dari awal. Tapi apa ternyata? Tak ada satu pun kata yang mengungkapkan rasa cinta, bahkan yang tesirat pun tak ada. Kuraba lagi amplop surat hingga ke bagian terdalam, berharap ada attachment nyelip disana. Dan sekali lagi ku harus kecewa. Ternyata yang kuterima bukanlah surat cinta, melainkan surat biasa layaknya surat dari seorang sahabat pena, ya sahabat pena yang memiliki pena datar, sedatar keyboard. Aku pun hanya bisa tertawa, tawa yang pahit dirasa (jiah, ketawa aja pahit gimana kalo cemberut).

Telah berlalu seminggu, tapi masih saja surat itu membuatku penasaran. Aku masih membacanya, entah untuk yang keberapa kali. Kuterawang, kubaca secara terbalik, secara silang, menghilangkan gugus konsonan, suku kata, mencoba berbagai enkripsi , dengan chipertext, transposisi maupun substitusi, dan berbagai teknik kriptografi yang kuketahui, berharap terselip teka-teki terselubung dalam suratnya. Hingga akhirnya menghasilkan suatu kesimpulan, kesimpulan yang membuatku kecewa sekaligus senang, senang karena dia sama sekali tak memberiku harapan semu. Ibarat ingus, kan lebih baik dibuang daripada membiarkannya tergantung di hidung. Ini menyadarkanku bahwa akulah yang terlalu banyak berharap lebih, menyadarkanku bahwa mengharapkan segala sesuatu secara berlebihan itu tak baik.

Aku pun mundur teratur, bukan kalah dan bukan pula menyerah. Tapi karena aku meyakini, bila seseorang telah menutup hatinya dariku, maka akan ada orang lain yang telah membukakan hatinya untukku (waktu itu kebetulan dapat gebetan baru). Terima kasih, setidaknya itu adalah surat terindah yang pernah kuterima (selain SK pengangkatan), bukan isinya yang membuatnya indah, melainkan berbagai proses mendebarkan yang telah kulalui, hingga berakhir pada kesimpulan yang kudapati, tentang pembelajaran diri dan tentang menemukan kriteria wanita sejati. Sederhana saja, wanita sejati itu selalu setia, selalu mengerti, selalu sabar, selalu percaya, selalu menunggu, selalu menarik, dan selalu saja sudah ada yang punya.

Sidang pembaca yang budiman, pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa selalu berpikir positif itu menyenangkan, setidaknya bisa menentramkan, serta dapat mencegah berbagai penyakit hati. Sebagai penutup, ada kutipan yang kusuka dari A.A. Gym: “Jagalah hati, jangan kau nodai”. Asal tau saja, noda membandel itu lebih mudah dihilangkan dibanding dinodai karena bandel. Dan sebagai pesan singkat-menyingkat terakhirku, inilah satu kata untuk kalian, “Selamattahunbarusemogaditahuninitercapaiapayangkitainginkan”.

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Catatan akhir tahun: “Yang Tak Punya Hati Dilarang Baca”

Tanpa terasa kita telah berada di penghujung tahun 2010. Banyak kesan yang kita peroleh dan banyak pula harapan-harapan yang belum tercapai di tahun ini. Sekedar berbagi, sudilah kiranya para sahabat membaca catatan akhir tahunku. Pada tulisan kali ini, aku hanya menyampaikan sedikit kejadian yang kualami ditahun 2010, selebihnya akan kutorehkan pada lembaran catatan yang lain. Aku gak berani menjamin bahwa dengan membaca catatanku, kalian akan mendadak cantik atau ganteng secara tiba-tiba, tapi dari tarian jari diatas keyboardku ini, semoga membawa manfaat dan inspirasi bagi para kawula muda yang bergejolak dan berapi-api (mendidih kalee...).


Yang pertama ingin kuceritakan adalah tentang sahabat-sahabatku. Bukannya bermaksud sombong, dibanding kalian mungkin jumlah friend listku tergolong sedikit. Tapi dari yang sedikit itu, aku memiliki semua yang kubutuhkan dan itu merupakan hal langka yang bisa dimiliki oleh semua orang. Dan salah satu yang punya andil besar di tahun 2010 ini adalah teman-temanku yang tergabung dalam organisasi rahasia DEBE21. Terimakasih untuk Bang Indri, Pak Manan, Sigit, Alief, Lia, Nicken, Yeni, Agus,Yoko, Tias, Faber dan yang lainnya. Tanpa mereka mungkin dunia purkuliahan akan sangat membosankan, ibarat sambel tanpa cabe. Meski tak dapat disangkal, aku sendirilah yang memiliki kontribusi terbesar dalam meramaikan kelas, karena cuma aku yang paling heboh di kelas, paling lebay, paling gak sinkron dan paling rame. Kami adalah sahabat yang saling melengkapi dan tak bisa dipisahkan, ibarat kentut dan baunya.


Kalo ngomongin sahabat, aku punya teman sepekerjaan yang tergabung dalam Team Se7en, sebuah geng yang mengutamakan ke-lebay-an para anggota dan penggemarnya. Anggota intinya yaitu Budi sebagai Kakashi, Eko sebagai Naruto, Anto sebagai Sasuke, dan tragisnya karena telat daftar, aku kebagian jadi Sakura, padahal aku kan cowok! Tapi tak apalah, mungkin itu resikonya jadi orang ganteng. Entah karena memiliki kesetiakawanan serta rasa senasib sepenanggungan yang tinggi, ketika salah satu teman kami patah hati yang lainnya ikut juga. Sebenarnya sih cuma kebetulan, tapi ini kebetulan teraneh dan yang paling tragis. Secara logika kami bukanlah teman yang bisa berkoalisi, prinsip kami berbeda satu sama lain. Meski pada faktanya kami selalu bisa bersahabat di setiap kondisi, bukan karena kami menyamakan prinsip, tapi karena tujuan kami sama. Yaitu, giat berkarya lalu kaya raya dan mati masuk surga.


Tak lupa pula teman-temanku di dunia maya, meskipun aku gak bisa mengabsen kalian satu persatu tapi kalian semua ada di hatiku. Aku banyak belajar arti solidaritas dan kebersamaan, dimana fisik, materi, maupun latar belakang bukan menjadi pembatas dalam persahabatan. Aku gak peduli siapa kalian, dari mana asalmu, apa misimu, bagaimana wujudmu, apapun rasmu, sukumu, dan bahasamu. Bagiku kalian semua adalah sahabat yang tak akan membuatku kecewa karna tlah mengenalmu. Kalo bicara tentang sahabat, rasanya tak akan pernah ada habisnya, karena persahabatan itu adalah kekayaan yang sebenarnya, harta yang perlu dijaga, bahkan (-kata Naruto-) bila perlu dengan nyawa.


Yang kedua adalah tentang karier, inilah yang paling menarik di tahun 2010. Inilah moment dimana aku bisa mengesampingkan rasa gengsi, tak peduli orang bicara apa. Ketika kita menjalani sebuah proses, kita akan banyak mendapat tekanan dari luar dan untuk mengatasinya dibutuhkan sebuat mental baja dan bukan mental tempe, apalagi tempe bongkrek. Karena menurutku, sesungguhnya orang lain itu tak akan peduli terhadap apa yang kita kerjakan, tapi lebih kepada hasil yang kita dapatkan. Dan yang perlu kalian tau, betapa beratnya kehidupan yang kujalani, aku masih baik-baik saja. Setidaknya hingga saat ini, perkara esok hari atau lusa nanti, biarlah menjadi misteri yang menanti tuk dihadapi.


Kalo kuceritakan tentang profesi utamaku, akan memakan waktu yang lama, maka kuceritakan yang lain saja, cerita tentang berkah silaturrahmi. Di bulan Ramadhan yang lalu, aku melihat peluang bisnis ketika berkenalan dengan seorang pedagang buah asongan di pasar induk Kramat Jati. Dan jadilah saya pedagang kurma dadakan, tak elok kiranya kalau kusebutkan berapa juta keuntungan yang ku peroleh, pastinya itu sudah lebih dari cukup buat ongkos mudik. Bagaimana proses pemasarannya? Kubawa ke tempat kerja, pasang harga, tinggal tidur, ketika bangun dagangan habis. Mudah kan? Pada prinsipnya, selama yang kita kerjakan itu halal, tak perlu malu untuk mengerjakannya.


Ketika bicara asmara, ruang lingkup kita menyempit pada hal yang disebut “cinta”, inilah bahasan yang ketiga. Biar kupersingkat, wanita yang kutaksir sejak pertengahan 2009 lalu akhirnya menjelma menjadi seseorang yang kusebut “kekasih”. Singkat kata, singkat cerita, kisah kami pun berakhir dengan singkat pula. Kalau kita mau berpikir jernih, sebenarnya tujuan berpacaran itu justru untuk berakhir putus. Ada yang putus disebabkan karena kemudian menikah, ada pula yang disebabkan karena mereka berpisah. Jangan dijadikan alasan untuk berlarut-larut dalam kesedihan, karena seharusnya kita senang. Saat kita sedih, itu adalah suatu tanda bahwa hati kita masih berfungsi, tak perlu dokter untuk mengeceknya lagi.


Sebenarnya ada lagi kejadian yang ingin kuceritakan selama tahun 2010 ini, baik suka maupun dukanya. Seperti yang ku sampaikan sebelumnya, aku gak bisa merinci kisahku satu per satu. Tapi aku yakin, diantara sahabat sekalian pasti memiliki kisah yang lebih seru dariku. Aku tak ingin tau apa yang kalian alami, yang aku inginkan kalian bisa merenungkannya, menganalisa kekurangan, kemudian merencanakan pembenahan di tahun depan. Mengatasi masalah tidak cukup hanya dengan berpikir, tapi juga diperlukan tindakan nyata. Kita harus membebaskan diri kita dari asumsi-asumsi yang tidak relevan yang membatasi pikiran kita, dan kita akan menemukan solusi-solusi dari masalah yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya.


Sebelum denting lonceng pergantian tahun berdentang, sebelum kegelapan menjadi terang-benderang, sebelum hari-hari baru dilalui, sebelum asa menjadi nyata, sebelum genderang perang dikumandangkan, sebelum sorak-sorai kemenangan pecahkan kesunyian, marilah kita satukan tekad untuk menjadi lebih baik lagi dan lebih memberi arti. Musuh gampang dicari tapi tidak dengan sahabat, jalin silaturrahmi yang renggang dipererat, dan jagalah hati agar terhindar dari maksiat. Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Shalawat yang awalnya tak terbatas, yang batasnya tak berujung, dan akhirnya tak berhingga. Wassalam...

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Peranan Kacang Hijau Dalam Teknologi


Beberapa malam belakangan ini aku sering banget kelayapan tengah malam, selain untuk mencoba menikmati malam-malam kesendirianku, aku juga sedang menjalankan misi rahasia. Tapi semenjak tulisan ini terbit, ini bukanlah lagi misi rahasia. Apa itu? Ya, belakangan ini aku berwisata kuliner malam, mencari tempat yang menjual bubur kacang ijo terlezat di Jakarta Timur. Mungkin menurut kalian misiku kali ini terlalu sederhana, tidak kawan! Itu baru kamuflase, misi sesengguhnya adalah mencari kedai bubur kacang ijo yang menyediakan hotspot Wi-Fi gratis. Ngarep...


Ini semua berawal dari suatu hari dimana aku bingung karena berada di posisi antara sedih atau tertawa. Begini kisahnya, sore itu aku masih dalam jam kerja ketika tiba-tiba terlintas hasrat untuk bermain Facebook. Sempat sih terjadi kemelut dalam hati. Sebenarnya aku berusaha bersikap profesional dengan tidak main FB ketika masih jam kerja, tapi akhirnya aku menyerah pada firasatku untuk membukanya. Ketika terbuka kulihat ada 1 kotak masuk. Hatiku berdebar, berharap, sekaligus cemas. Entah kenapa, senang aja rasanya kalau pas buka FB melihat ada jejaknya meski hanya sekedar notifikasi saja. Sesederhana itu...  tapi apa yang terjadi? Ini bukan pesan dari dia melainkan dari teman kostku. Isinya kurang lebih begini “Wo, kontrakan kebanjiran. Air masuk sampai pergelangan kaki. Banyak barang yang gak sempat diselamatkan, termasuk komputermu”.


Ngomong-ngomong soal banjir, aku jadi ingat dengan tukang bubur kacang ijo keliling yang lewat depan rumah. Bukan karena rasanya yang selalu membuatku tak bisa melupakannya, tapi oleh labelnya yang tertulis tidak lengkap pada gerobaknya. Kalau dilihat dari depan tertulis “BUBUR KACA”, sedangkan “NG IJO”nya tertulis di sisi kanan gerobak. Mungkin dikarenakan luas bidang pada sisi depan tak memberinya cukup ruang untuk menuliskannya.


Kembali ke komputer yang tenggelam, langsung saja aku bergegas pulang, berharap masih bisa menyelamatkan atau sekedar memberi nafas buatan. Naas, ternyata matherboard dan processor nya korslet, aku menyesal. Selama ini aku mengajari komputerku itu gimana caranya menyelamatkan diri dari virus, worm, spyware, malware dan lain-lain tapi aku lupa untuk mengajarinya cara berenang. Kenapa disaat aku sedang membutuhkannya untuk tugas kuliah yang menumpuk, dia malah tewas. Dalam sedih aku bernyanyi, “Mau dibawa kemana... tugas-tugas ku...”


Harap tenang para pembaca yang budiman, ini bukan akhir petualanganku. Sebelumnya aku berencana untuk membeli PC desktop, sedikit demi sedikit aku sudah menyisihkan uang jajanku. Tapi karena insiden tersebut aku terpaksa merubah rencana, memang tabunganku tak akan cukup bila kubelikan PC desktop, tapi jika dengan sedikit memaksa aku masih bisa membeli netbook. Setelah surfing sana-sini, pilihanku jatuh pada HP Mini 110-3014 TU, netbook murah dengan spesifikasi yang lumayan. Waktu itu salesnya menawarkan yang 110-1169TU, “Mending yang ini aja mas, selisih harganya $10 lebih mahal, dengan spesifikasi yang sama tapi harddisknya lebih besar, 320 GB”, katanya. Tapi demi menyelamatkan kantong, dengan sedikit sombong kujawab “Bagi saya harga bukan masalah mbak, saya lebih tertarik pada spesifikasi dan warna cashingnya yang hitam, kalau soal harddisk, dirumah saya punya 2 terabytes”, dan sales itu pun terdiam.


Masalah datang! Karena netbookku tidak dibundle dengan Operating System (OS), maka aku harus menginstalnya sendiri. Mungkin bagi sebagian orang ini akan menjadi kendala, tapi tidak bagiku. Memang aku gak punya DVD eksternal untuk nginstal OS, tapi aku punya teman! teman yang bersedia dipinjami DVD, namanya Alief Syahru (jangan lihat tampangnya, tapi lihat kebaikannya). Kemudian masalah berikutnya datang! Setelah beberapa hari, ada file yang terhapus sehingga windows tidak bisa booting. Mau pinjam DVD lagi males, rumahnya si Alief jauh, diluar zona peradaban umat manusia. Akhirnya saya mencoba cara install yang lebih menantang, yaitu menggunakan flashdisk. Caranya mudah, dengan meminjam laptop sepupu (namanya Ayu) flashdisk kuformat, kemudian kubuat menjadi bootable, selanjutnya copy semua file yang ada di CD instalasi. Setelah semua proses tersebut, flashdisk siap digunakan untuk proses instalasi.


Mencegah terjadinya kesalahan seperti sebelumnya, kuinstal 2 OS sebagai langkah pengamanan terhadap system, ada XP dan Seven. Jadi kalau Seven bermasalah, setidaknya bisa kuperbaiki dari XP atau sebaliknya. Meski keduanya bajakan tapi dengan sedikit trik keduanya jadi genuine plus bersertifikasi OEM dari HP. Kemudian kuinstal juga Microsoft Office bajakan, Norton Internet Security bajakan, Tune Up Utility bajakan dan tak lupa player untuk musik dan video, yang kebetulan juga bajakan. Kenapa sih softwaremu bajakan semua? Tidak! Saya juga punya yang asli. Apa itu? Smadav. Kenapa hanya Smadav yang asli? Karena hanya Smadav yang buatan orang Indonesia, sedangkan lainnya buatan orang luar, selain itu karena Smadav adalah freeware alias gratis. Maklumlah, anak kost macam aku manalah punya uang lebih buat membeli kemewahan atau sekedar meningkatkan gengsi.


Selanjutnya untuk pengamanan terhadap privasi, kuberikan password rahasia. Bahkan software pencuri password seperti Jack The Ripper pun tak akan bisa menjebol password rahasiaku ini. Aku berani menjamin, dengan memberi password “ireneadler” pada XP dan “123” pada seven, hacker kenamaan semacam Kevin Mitnick atau Eric Steven Raymaond pun tak akan berkutik untuk menerobosnya. Ups... rahasiaku terbongkar!

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kreatifitas Diambang Batas

Sebenarnya saya enggan tuk menulis saat ini, tau sendirilah... Ketika seseorang sedang dilanda kasmaran, yang terlintas dikepalanya selalu tak jauh dari ungkapan cinta melulu, aku sadar sekali hal itu, bahkan Mbah Einstein dulu pernah bersabda "Gravitation cannot be held responsible for people falling in love". Bahkan hingga saat ini pun belum terlintas ide mau nulis apa? Tapi apa boleh buat, para penggemarku tak bisa bersabar menunggu kelanjutan kisahku. Tapi... Ah, jangankan memikirkan ide, memikirkan kenapa mereka mengidolakanku saja sudah cukup membuatku bingung. Jawaban yang paling logis sih karena semua tulisanku itu sifatnya open source, gratis, dan terintegrasi langsung dengan server dan database admin.

Diantara pembaca sekalian, mungkin tidak begitu banyak yang menyukai fisika sehingga enggan untuk mempelajarinya, tapi bila kita bisa menemukan keterkaitan antara fisika dengan disiplin ilmu lainnya, saya yakin, yang tidak menarik bisa berbalik menjadi sangat menarik. Coba tengok hukum Newton I yang berbunyi "Suatu benda cenderung diam atau bergerak dengan kecepatan tetap kecuali jika ada gaya luar yang bekerja". Kalau ditelusuri, agak mirip mungkin dengan terjemah dari Surat Al Ashr ayat 7 yang kira-kira artinya kalau manusia itu diam, dia akan rugi, karena waktu tidak akan pernah menunggu kita. Itu merupakan sedikit keterkaitan dari penerapan ilmu fisika dan agama, lalu apa kaitannya dengan psikologi? nanti saya jelaskan.

Oh iya... Baru-baru ini aku telah merayakan ulang tahunku yang ke-23, itu berarti usiaku telah mencapai 8.401 hari atau 201.624 jam. Jika diasumsikan sehari aku buang air besar 1 hingga 2 kali per hari, itu artinya ada sekitar 12.000-an kali aku bolak-balik ke toilet. Wow... Angka yang fantastis, itu belum termasuk berapa kilogram kotoran yang bisa dihasilkan dalam kurun waktu 23 tahun itu, dan belum pula dikalkulasikan berapa Rp/kg yang dihasilkan setelah dikurangi penyusutan dan biaya proses pembuatan pupuk. Maka tidak menutup kemungkinan, hanya dengan kotoran penduduk Indonesia selama 23 tahun sudah cukup untuk membayar 1/4 hutang negara yang konon untuk awal tahun 2010 mencapai Rp 1.878 triliun, sedangkan sisanya bisa didapat dari kotoran sapi, induknya sapi, anaknya sapi, dan sepupu-sepupunya sapi. Bayangkan, betapa hebatnya negeri kita yang bisa melunasi hutang negara hanya dengan kotoran dari penduduknya.

Itu cuma intermezzo saja, yang jadi pertanyaan dalam ruang imajinasiku dan cukup membuatku cengar-cengir sendirian, yaitu apa jadinya jika closset yang setiap hari kita sirami dan dipupuki itu tumbuh membesar bahkan berkembang biak... Pasti sungguh mengerikan!!!

Aku jadi teringat pada kisah seorang teman, maaf demi menjaga nama baiknya, nama dan alamatnya kami rahasian. Waktu itu Jakarta diguyur hujan lebat yang menyebabkan jalanan terendam air, maka tak heran bila mendapati ikan-ikan kecil berseliweran pada genangan air di jalanan. Ketika sedang bermain genangan air itulah, anak dari temanku yang nama dan alamatnya kami rahasiakan demi menjaga nama baiknya itu menangkap dan membawa pulang beberapa ikan kecil dan kura-kura hasil tangkapannya. Karena di rumahnya tak memiliki akuarium, anakan ikan yang ternyata lele itu diletakkan begitu saja di dalam genangang air closset, sedangkan kura-kuranya dibuang. Kenapa dibuang? Ini akan saya jelaskan nanti.

Entah disengaja atau tidak, ikan-ikan kecil itu terdorong oleh air bertekanan tinggi lalu masuk kedalam blackhole, terperangkap dalam ruang dan waktu hingga akhirnya terpuruk dalam ruang gelap bernama septic tank yang kebetulan merupakan surga makanan bagi sang ikan. Demi mempersingkat waktu tak perlulah kuceritakan apa yang terjadi pada ikan kecil hasil tangkapan dari anak temanku yang nama dan alamatnya kami rahasiakan demi menjaga nama baiknya itu karena tak ada yang tau kabar dan pengalaman hidup sang ikan. Bahkan dari semua penghuni rumah tak ada yang sempat bertegur sapa dengan si ikan sejak kejadian itu.

Waktu berlalu hari berganti, tak terasa 3 tahun berselang semenjak kejadian itu. Disuatu malam, anak dari temanku yang nama dan alamatnya kami rahasiakan demi menjaga nama baiknya itu berhasrat pengin buang hajat. Setelah beberapa saat nongkrong, dia pun mengurungkan kembali niatnya demi mendengan suara-suara aneh dari arah bawah singgasana jongkoknya. Usut punya usut, setelah dilakukan penyedotan oleh ahlinya, ditemukan sedikitnya 1,5 drum lele berukuran super berwarna agak kepucatan, mungkin ini disebabkan kekurangn cahaya matahari. Karena tak ada tetangga yang bersedia menjadikannya lauk, akhirnya ikan-ikan itu terpajang di pasar dengan harga yang benar-benar miring. Untung lele, bukan kura-kura, bisa jadi fenomena Kura-Kura Tinja nih seperti dalam serial kartun Teenage Mutant Ninja Turtles.

Lalu bayangkan seandainya disetiap rumah memelihara lele di septic tanknya, mungkin dalam beberapa tahun kedepan negeri kita ini telah menjadi pengekspor lele terbesar di dunia. Mungkin kalian akan bertanya-tanya, negara mana yang mau menerima, tapi tenang saja, ikan-ikan itu akan laku keras bila dijual di pasar-pasar negara Somalia, Zimbabwe, Malawi, Comoros, Congo, Barundi, ataupun Timor-Timur yang konon tersohor karena saking miskinnya. Dan bila diolah oleh ahlinya, bisa jadi harganya melampaui kopi dari kotoran luwak yang harga per kilonya mencapai £140-£700. And this is it lele asam manis ala chef Farah Quenn.

Sudah cukup ngelanturnya, mari kembali kebahasan awal. Dari sisi psikologi, teman-teman pasti setuju jika suatu masalah tidak akan selesai hanya dengan mendiamkannya. Semakin giat kita bertindak menuntaskan sedikit demi sedikit masalah yang membukit, maka ide akan terbit dan kreatifitas kita pun bangkit, berjalan lancar tanpa rasa sembelit. Mungkin itulah alasan mengapa saya lebih menyukai Sherlock Holmes dibanding Hercule Poirot. Sherlock Holmes lebih mengutamakan aktivitas lapangan dari pada Hercule Poirot yang memuja kursi malas dalam mengaktifkan sel abu-abunya.

Sebenarnya saya lebih menyukai hukum Newton III yang F.aksi = - F.reaksi dan Gravitasi, karena ini bisa dikaitkan dengan cinta dan rasa ketertarikan, mungkin suatu saat kubisa menuliskannya. Oke, kalau semua telah sepakat, mari kita satukan tekad, merubah nasib menjadi lebih baik lagi. Karena tak kan ada yang bisa merubah nasib kita selain kita sendiri. Merdeka...!!!

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Lelaki Itu Ayahku

Tiba-tiba berlinang air mataku, mengalir melalui sudut, membasahi pipi setelah tanggul pertahanan pelupukku tak kuasa lagi membendung genangan luh yang hendak tercurah. Cengeng? Ya, aku memang cengeng! Hati kecilku tak terima setiap melihat perlakuan tidak manusiawi seorang anak terhadap orang tuanya dan atau sebaliknya. Aku tak tau siapa yang pantas disalahkan, tapi mungkin aku tau apa yang harus kulakukan ketika berada diposisinya. Semua kemungkinan pun menjalar menjadikan pertanyaan-pertanyaan yang menunggu tuk dijawab.

Tak kuasa hatiku berkata "Tidak Peduli", ketika ketenangan soreku terusik dengan sebuah berita di salah satu channel televisi swasta, inilah titik awal sebuah perenungan yang kutuangkan dalam suatu tulisan (sebelumnya maaf bila tulisanku jelek kayak cakar ayam, maklum nulisnya sambil cegukan), bukan tentang kita, tapi hanya aku dan dia. Isi berita itu tentang manusia yang menzalimi manusia lainnya, dendam seorang anak yang tega membunuh ayah kandungnya. Kenapa harus ada saling bunuh ketika kita bisa saling mencinta? Apakah tidak ada cara lain untuk melepas derita selain menghabisi nyawanya?

Mungkin kita pernah berpikir bahwa ayah kita terlalu mengatur apa yang harus kita lakukan, padahal kita sendirilah yang menjalani hidup. Tapi pernahkah kita berpikir, seandainya kita menjadi ayah, apakah kita akan mendiamkan begitu saja kesalahan anaknya? Ayah yang baik, tidak akan selalu memberikan apa yang diinginkan anaknya, tapi lebih pada apa yang dibutuhkan anaknya. Dia akan membimbing langkah kita, karena dia ingin kelak kita bisa berjalan sendiri tanpa harus dibimbing lagi, ayahlah orang dibalik layar itu. Apakah kita bisa menjadi seorang ayah yang lebih baik dari ayah kita?

Suatu hari dalam perjalanan pulang, aku berjumpa seorang siswi SMA serius sekali menggoblok-goblokkan ayahnya yang waktu itu menjemput kepulangannya. Bukannya aku bermaksud menguping, tapi suara anak itu terlalu keras untuk tidak terdengar. Entah apa salahnya, si anak mengatakan dia kolot. Seakan dia malu dengan sikap ayahnya, melebihi malu seorang anak yang lahir tanpa ayah. Tidakkah dia berpikir perasaan ayahnya atas sikapnya? Apakah aku akan menghadapi hal serupa oleh anak gadisku kelak? Lalu aku dibunuh anak lelakiku karena telah membuat malu kakaknya ditempat umum?

Untuk apa kita malu dengan kekurangan, padahal dari kekurangan tersebut kita bisa belajar menyempurnakan. Mungkin aku menganggap ayahku gaptek, dan itu berarti aku akan mengalami kesulitan mengajarinya Facebook-an. Jangankan main Facebook, bisa menggunakan ponsel aja baru beberapa tahun belakangan ini. Ketika masih newbie, ayahku sering meneleponku sekedar menanyakan sesuatu yang jawabanku hanya "Ya" atau "Tidak". Saat itu kubilang "Lain kali SMS aja biar lebih hemat pulsa". Tahukah kalian? SMS yang harusnya dikirim ke aku, dikirimkan pula keseluruh kontak yang ada. Alhasil, ditariklah sebuah kesimpulan bahwa tarif SMS lebih mahal ketimbang nelpon.

Apakah peristiwa itu lantas membuatku layak menyebutnya gaptek? Tidak kawan. Mungkin ayahku ketinggalan teknologi, tapi soal pengalaman hidup, masalah, dan cara mengatasinya, ayahku lebih tau dan lebih bijak dalam bersikap. Untuk itulah ayahku membelikanku ponsel, biar aku tidak gaptek sepertinya. Itulah salah satu bukti bahwa ayahku lebih mementingkan anaknya ketimbang dirinya sendiri. Dan itulah kelebihan dari ayahku dibalik kekurangannya.

Mungkin kita akan menganggap ayah kita pengertian, ketika apa yang kita inginkan terpenuhi. Tapi kita tidak pernah peduli atas usahanya dalam memenuhi keinginan kita. Dulu aku menyesali kenapa tidak terlahir dari keluarga berada, yang segalanya difasilitasi dan bisa dinikmati dirumah. Kini aku malah bersyukur betapa beruntungnya hidupku karena terlahir dari keluarga sederhana. Segala keinginanku yang tidak bisa kutemukan di rumah, memacuku untuk menemukannya sendiri diluar rumah dengan keringatku oleh tanganku sendiri. Alam mengajariku untuk mandiri.

Mungkin ayah kita akan memarahi kita habis-habisan ketika memergoki kita merokok atau membolos saat sekolah. Saat itu kita akan sangat membencinya karena kita tau bahwa ayah kita sendiri seorang perokok berat dan pembolos ulung ketika dia masih muda dulu. Dia bukan munafik kawan, dia cuma ingin agar kita tidak melakukan kesalahan sepertinya yang merugikan masa depan. Seorang guru tidak menginginkan anaknya cukup puas jadi guru, minimal dosen. Karyawan tidak menginginkan anaknya jadi karyawan, minimal pegawai negeri. Begitu pula pencuri, minimal anaknya gembong mafia, halah... setidaknya jadi pengacara, biar bisa membela ayahnya di meja hijau. :D

Mungkin ayah kita tak pernah memuji ketika kita berhasil mencapai sesuatu. Janganlah kita lalu berasumsi bahwa dia tidak peduli. Diluar sana, ayah kita menceritakan keberhasilan anaknya pada teman-temannya. Dengan bangganya dia menceritakan anaknya yang bisa kuliah dengan beasiswa, mendampingi kita diwisuda, atau sekedar memamerkan sepatu barunya yang dia peroleh dari pemberian anaknya. Walaupun sekilas dan hanya sekejap atau bahkan tanpa suara sekalipun, senyum puas seorang ayah mampu meluruhkan lelahnya kerja keras usaha kita setahun yang lalu dan satu tahun berikutnya untuk bekal semangat ketika jenuh merasuk.

Mungkin kita pernah berpikir bisakah kita menjadi ayah yang sukses? Lalu apa barometer kesuksesan itu? Kita tidak akan bisa menilai sukses atau tidaknya ketika kita menjadi ayah selama kita masih hidup. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya ya harus mati dulu, kalau disana anak-anak kita tidak memberatkan azab akhirat dari tugas ayah yang tidak dilaksanakan, berarti anda telah sukses, dan insyaallah pintu Surga terbuka lebar. Sebagai calon ayah, kita harus tahu apa kewajiban ayah dan belajar berusaha untuk menjadi ayah yang terbaik bagi anak-anaknya mulai dari sekarang. Bagi wanita, setidaknya bisa menentukan pria mana yang layak menjadi suami dan calon ayah bagi anak-anaknya kelak. Meminjam istilah dari seorang teman, "Bukan sekedar pria apa adanya, apalagi ada apanya".

Dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu terngiang dikepalaku, merasuk mengendalikan alam bawah sadarku, sudahkah ayahku bangga padaku sebagai anaknya? Apakah aku masih menjadi anaknya ketika dia membutuhkanku diusia senjanya? Dan apakah aku orang yang diharapkan menemaninya ketika menghadapi sakaratul maut? Apakah sudah menjadi anak shaleh yang selalu mendo'akan orang tuanya, seperti yang selalu dia nasihatkan menjelang tidurku dulu?

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kisah Akhir Tahun

Akhir tahun biasanya dijadikan langkah awal dalam sebuah perjalanan kisah untuk tahun kedepannya. Saat-saat seperti inilah kita harus menutup lembaran lama, dan siap untuk membuka lembar-lembar baru yang masih menjadi misteri. Bukan berarti kita harus menghapus kenangan, tapi kita jangan terlalu larut dalam sebuah kenangan itu, suka maupun duka. Karena kita masih bisa membuat lembaran kisah yang lebih baik untuk tahun kedepannya.

Aku punya sebuah renungan buat teman-teman. Sekedar jadi bacaan ringan aja sih. Yah, walaupun sepintas lalu... masuk lewat mata kanan, keluar dari mata kiri. Tapi diusahakan ya, mampir dulu ke hati.

Wokeeh, langsung menuju TeKaPe:

Suatu ketika, Mawar (bukan nama sebenarnya) mendapati tiga sosok tamu tak dikenal sedang berkunjung ke rumahnya. Mawar berkata: "Aku tidak mengenal kalian, tapi sepertinya kalian kelelahan karena perjalanan jauh. Mari masuk, didalam ada duren buat penghilang penat" (buahnya dimakan, kulitnya buat pijat refleksi).

Salah satu tamunya bertanya: "Apakah suamimu sudah pulang?".
"Belum, mungkin sebentar lagi".
"Oh.. Kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu pulang".
"Okelah kalo beg.. beg.. beg.. begitu! Paling tiga jam lagi suamiku dah nyampe rumah kok".

Tak lama kemudian, suami Mawar (sebut saja namanya Kumbang) pun tiba di rumah dan Mawar menceritakan perihal tamu tak dikenalnya itu. Sang suami menyuruh istrinya mengundang ketiga tamunya masuk ke rumah.

"Maaf, kami sema tak bisa masuk bersama-sama", kata mereka hampir bersamaan. "Lho, kenapa?" tanya Mawar merasa heran. Salah seorang tamu berkata, "Sudah peraturannya begitu. Nama dia Kekayaan, sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, dan aku sendiri bernama Cinta. Coba tanya suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu".

Mawar kembali masuk rumah dan menyampaikan pesan tamu itu kepada suaminya. Kumbang merasa sangat heran "Waow... menyenangkan sekali. Baiklah, coba kamu ajak si Kekayaan masuk kedalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan kekayaan".

Tapi istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Yayang... kenapa tak kita undang si Kesuksesan saja? Sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan bisnis kita". "Oke... Kalo itu maumu. Gitu aja kok repot".

Tiba-tiba dari balik pintu, muncullah sikecil (maaf, aku lupa namanya) ikut mengusulkan siapa yang akan masuk kedalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk kedalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan cinta".

Akhirnya diambillah sebuah keputusan, "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini kedalam. Dan malam ini si Cinta akan menjadi tamu kita".

Mawar kembali menemui tamunya, "Siapa diantara kalian yang bernama Cinta? Ayo... silakan masuk, andalah tamu kami malam ini". Si Cinta kemudian bangkit dan berjalan masuk kerumah, diiringi si Kekayaan dan si Kesuksesan.

Karena merasa janggal, Mawar bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Kami hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kalian ikut serta?".

Kedua tamu yang ditanya menjawab bersamaan. "Kalau anda mengundang si Kekayaan atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena anda mengundang si Cinta... maka, kemanapun Cinta pergi, kami akan selalu ikut bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita kepada jalan kebaikan, kembali ke jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini".

Akhirnya pangeran dan Cinderella dapat bertemu kembali, kini mereka hidup bahagia. Cukup sekian dan terima kasih. Met bobo... Sampai jumpa tahun depan. I luv U full...

Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kisah Cinta Pertama Gue

Sudah sering gue menceritakan kehidupan gue yang penuh warna-warni. Tapi kali ini gue pengin bercerita tentang kisah cinta pertama gue. Yup, sebagaimana yang kalian ketahui, gue bukanlah sosok pria romantis pujaan semua wanita. Tapi dengan sedikit pesona dari daya tarik yang gue punya, tak ada kata "Tidak" buat para wanita untuk menerima pinanganku. Bukanlah hal yang berlebihan bila kukatakan demikian, tunggu dulu... kalian jangan berprasangka yang bukan-bukan tentang gue. Sungguh, gue bukanlah tipe cowok yang suka mempermainkan perasaan orang, itu bukan prinsip gue, karna gue tuh orangnya terlalu baik. Contoh kebaikan gue: gue suka ngomongin ketololan orang di belakang, karena gak tega mereka terluka kalo gue omongin di depan. Makanya gue kepengin kalian semua kayak gue, betapa mulianya hati gue. He.. he.. becanda... Oke kembali ke topik utama, yaitu cinta pertama gue.

Mungkin ada yang tidak sependapat denganku, tapi kuakui cinta pertamaku (orang lain setelah kedua orang tua) adalah suatu kenangan yang terlalu manis tuk dilupakan. Konsep 'tebar pesona' yang gue lakukan kala itu bukanlah pamer kekayaan dan ketampanan, ya iyalah... secara kedua hal itu gak gue punya. Kalo sekedar ganteng sih iya... ha.. ha.. Sebenarnya kegantengan maupun kecantikan itu merupakan hal yang relatif, dan kalo kamu jelek... Sori, itu merupakan sesuatu yang mutlak. Konsep tebar pesona gue yaitu terlihat berbeda dari cowok lain dan sedikit gila rada nekat dan bisa menyampaikan informasi baru yang belum ada sebelumnya, misalnya lu bilang gini ke dia "eh tau gak, kalo sebenarnya sabun batangan tuh bisa dimakan?" (sebenarnya semua jenis sabun, baik colek, serbuk, batang, maupun cair bisa dimakan, tergantung lu berani apa enggak terima resikonya). Agak susah sih ngejelasinnya, tapi gue kasih gambaran nih... Dalam memuji, jangan mengatakan dengan kalimat standar seperti "Kamu cantik banget" itu dah basi. Cari kalimat yang lain yang bisa membangkitkan rasa penasarannya, misalnya "Gue suka liat caramu ngupil, anggun banget... mengagumkan". *Bravo! Andante!*

Menurut penerawangan gue, biasanya cowok tertarik sama cewek karena kecantikannya, tapi cewek tertarik sama cowok karna sikap yang ditunjukkan oleh si cowok. Misalnya kebaikan hati, pengertian, bisa melindungi de..el..el.. itu sudah kodratnya. Memang sih ada juga cewek yang matre, tapi itu murni karena kebutuhan ekonominya (realistislah…), bukan kebutuhan psikologisnya sebagai seorang wanita. . Celah inilah yang bisa gue manfaatkan, dengan memberikan perhatian, pujian, maupun gombalan. Mungkin lu pernah berpikir "Apa sih maunya cewek itu?", percayalah... cewek tuh sebenarnya gak tau apa yang mereka inginkan. Lu gak perlu mencari tau, lu itu cukup dengan memberinya sesuatu yang berkilau aja dah bisa bikin dia senang, misalnya senter atau mini petromaks.

Ah... cerita gue jadi ngelantur kemana-mana deh, langsung aja kita bahas tentang cinta pertama gue. Tapi sebelumnya, ada satu hal yang perlu kalian ketahui... perasaan cewek itu tak sekokoh yang terlihat dari luar. Perasaan cewek itu begitu lembut dan mudah luruh. Agak sotoy ya gue? ah biarlah... Nih kukasih perumpamaan gratis, tapi lain kali bayar ya... "Anggap saja lu itu lumpur baginya, seberapa kalipun lu melemparkan lumpur dari tanganmu, lu nggak bakal bisa meruntuhkan dinding pendiriannya yang kokoh kayak tembok penjara. Tapi setidaknya sisa-sisa lumpur yang lu lempar, akan membekas selamanya ditembok itu, membekas dan memberi ruang tersendiri dihatinya".

Tuh kan… jadi ngelantur lagi, ya udah basa-basinya cukup sekian dulu, langsung aja gue mulai. Waktu gue baru mengenalnya, gue merasakan perbedaan level yang sangat terlalu jauh. Untuk berjumpa dengannya aja udah menjadi hal yang sangat istimewa buatku, apalagi bisa berkenalan. Bayangin aja… jangankan untuk berjabat tangan, debu yang menempel di ujung sepatunya aja masih belum layak buat gue sentuh. Jejak sepatu yang ditinggalkannya di lumpur pun bahkan masih lebih mulia dibanding jiwa ragaku. Tapi gue percaya dengan peluang yang gue miliki. Kalau orang suka sama suka kemudian jatuh cinta karena keduanya sama-sama ganteng dan cantik, itu udah lumrah. Cinta yang nggak lumrah tuh kalo kata orang Manado ada tiga:

1) "Witing tresno jalaran soko kulino" (tumbuhnya cinta disebabkan dari terbiasa)
2) "Witing tresno jalaran soko kepekso" (tumbuhnya cinta disebabkan dari keterpaksaan)
3) "Witing tresno jalaran gak ono sing liyo" (tumbuhnya cinta disebabkan tak ada yang lain)

Tiap baru mau bercerita kok gue jadi suka ngelantur kemana-mana ya… sebenernya gue mau bercerita tentang kalimat yang gue pake buat merayunya. Tapi berhubung waktu yang tidak memungkinkan, ya sudah kucukupkan dulu sampai sekian, terima kasih. Bersambung...



Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Kenapa Harus Womanizer

WOMANIZER… entah kenapa aku menyukainya, bahkan kata itu kujadikan link URL di blogku. Disadari maupun tidak, banyak pandangan kurang baik terhadap seorang "womanizer", diantaranya muncullah beberapa pertanyaan:


1. Apa arti sebenarnya dari womanizer?
2. Apakah womanizer dapat disamakan dengan ungkapan playboy?
3. Mengapa seorang womanizer dipandang oleh wanita dengan sebelah mata?
4. Apa yag terjadi jika seandainya lelaki di dunia ini 50%nya adalah seorang womanizer ?


Dari berbagai penelusuran yang kulakukan bersama kang Google, aku menemukan suatu jawaban yang mampu menguak sebuah misteri, serta mengangkat hal-hal yang dianggap tabu menjadi layak dan patut untuk diperbincangkan. Inilah jawaban dari berbagai pertanyaan diatas.


1. Womanizer adalah seorang pria yang dapat memahami dengan baik apa yg diinginkan dan apa yang di harapkan oleh wanita. Dan dia dapat memahami setiap "Sinyal Cinta" yang dipancarkan oleh seorang wanita. Womanizer itu sangat memahami seluk beluk wanita, dia dapat menjadi siapa saja bagi wanita itu.


2. Womanizer dan Playboy memiliki kesamaan namun ada perbedaannya! Womanizer dan Playboy memang sama-sama seorang lelaki yang dapat menaklukkan hati seorang wanita dengan begitu mudah, dalam artian mudah mencairkan suasana yang beku ketika pertama kali berkenalan. Namun perbedaannya Womanizer belum tentu adalah seorang playboy, tetapi playboy sudah tentu seorang Womanizer. Makna kata dari Playboy adalah sifat seorang Womanizer yang niat awal PDKTnya kurang baik terhadap cewek yang akan menjadi targetnya, alias "Ada Udang di Balik Batu". Baik itu dari untuk mencari materi, nama tenar, bahkan untuk menyakiti hati cewek itu sendiri.


3. Seringkali wanita memandang atau tertarik pada seorang pria dari kepandaian dan kelihaiannya dalam bersikap dan berbicara dengan sorang wanita yang baru saja dia kenal, maka bisa di anggap dia itu adalah seorang Playboy, namun kenyataannya di dunia ini tidak hanya ada Playboy namun ada pula seorang Womanizer "White Hat". Sama seperti halnya sebutan bagi hacker, ada yang "White Hat" dan ada pula "Black Hat".
4. Merujuk pada penjelasan tersebut diatas bisa disimpulkan bahwa semakin banyak Womanizer bukan Playboy, maka para wanita di muka bumi ini akan semakin bahagia didalam menjalani hidupnya. Sebagaimana yang kita tahu, seorang wanita sangat senang bila dipuji dan dipuja oleh para kaum lelaki. Bila muncul pertanyaan mengapa sangat penting membahagiakan seorang wanita? Ini semata-mata karena wanita adalah calon seorang Ibu bagi anak-anaknya, para kaum lelaki ada di dunia ini karena terlahir dari rahim seorang ibu. Maka muncullah ungkapan "Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu".


So… mengapa kita gak membahagiakan Ibu kita? Wanita itu sudah kodratnya menjadi seorang Ibu, maka sudah kewajiban kita untuk membahagiakan Ibu kita. Dan boleh jadi itu artinya kita membahagiakan seluruh wanita di muka bumi ini seperti halnya kita membahagiakan Ibu kita sendiri. Selain itu kita memang sangat membutuhkan seorang wanita di samping kita. Lalu bagaimana menurut kalian?


Lanjutkan....!!!
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

When I'm Feeling Blue, But Not Kelabu

Pernahkah diantara kalian menerima berita yang menyedihkan? Gue rasa pasti semuanya pernah mengalaminya, kecuali anda dilahirkan murni autis. Kali ini gue pengen sedikit bercerita tentang beberapa berita sedih yang sempat membuat jantungku berhenti berdetak karenanya. Percayalah, selama ini aku masih bisa menahan air mata, seperih apapun berita duka yang kuterima. Kecuali tiga kali. Selebihnya kuanggap sebagai ujian dari Yang Maha Adil untuk menempa mentalku dalam menjalani lembar demi lembar kehidupanku.

Pertama yaitu ketika umurku masih sekitar 5 tahun, waktu itu aku sempat lama menahan air mata sebelum akhirnya tumpah. Seluruh tulang dan persendianku seakan tak mampu menopang raga, bahkan kontra indikasinya masih membekas hingga kini. Di masa sekecil itu aku menerima beban yang teramat sangat pedih, sementara bibirku masih bisa menyunggingkan senyum kepada semua orang. Inilah kebohongan sempurnaku. Tapi bukanlah kisah ini yang ingin kukisahkan, tak mau aku membuka luka lama yang kini mulai mengering.

Kedua yaitu ketika ayahku meneleponku, memberi kabar bahwa beliau sedang dirawat di Rumah Sakit akibat kecelakaan kerja. Ternyata saat ayahku menelepon, itulah saat dimana kondisinya mulai membaik. Ketika kutanyakan, jawabnya tak ingin membuatku repot. Dan akulah orang yang pertama diberi kabar, tak mau dia membuat heboh mengharap belas kasihan orang lain, cukuplah orang tau bahwa keadaannya baik-baik saja. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kita sama-sama bisa menipu penilaian orang lain, pembohong yang sempurna. Hal inilah yang membuatku sedih, beliau sendirian menahan sakit, sementara dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Semoga Allah mempermudah jalan kami, aku ingin selalu ada untuknya dalam suka maupun duka.

Ketiga yaitu sebuah kabar yang membuatku begitu tegang sehingga apapun yang kulihat serasa tak menggairahkan minatku lagi. Aku bukanlah pencerita yang baik, tapi dengan keterbatasan kemampuanku, semoga kalian bisa menerimanya.

Berawal dari sebuah malam di minggu-minggu pertama bulan Ramadhan. Ketika itu gue baru saja menjalankan shalat Isya di mesjid, ketika hendak berlanjut ke tarawih tiba-tiba nih jantung berdegup kencang jgedug... jgedem... jgedag... Jgecess...(sepeti intro Binded in Chains A7X) konsentrasi pun buyar. Gue putusin aja untuk gak ngikutin tarawih, lalu beranjak pulang ke rumah (mungkin guenya aja yang males). Kucoba buat tidur, tapi mata ini lebih suka buat melotot. Aku pun baru bisa tidur setelah subuh keesokan harinya.

Paginya gue berangkat kerja seperti biasa. Kerjaan pun juga biasa, yang tak biasa siang itu aku menerima sms dari orang yang tak biasanya mengirim sms ke gue. Isi pesannya pun juga biasa, hanya menyuruhku nelpon balik seperti biasa. Ketika kutanyakan, yang ditanya menyuruhku menelpon adikku, dia mengabarkan bahwa adik gue mengalami kecelakaan.

Masyaallah, bagaikan petir disiang hari yang terik. Manusia macam apa yang demikian tega menghamili adikku. Pikiranku pun semakin kacau, tapi setelah berusaha menenangkan diri, barulah aku bisa berpikir jernih. Tak mungkin adikku hamil, secara dia kan cowok. Kemudian kuputuskan untuk menelpon dari wartel terdekat. 

"Hallo... Assalamu'alaikum" di seberang bibiku menjawab dengan suara yang seakan tak ada masalah "Waalaikum salam, ada apa mas?". "Nda ada apa-apa, cuma kangen aja dah lama gak nelpon! Galangnya ada gak? Pengen ngobrol sebentar". "Oooh... Galang lagi sekolah mas, ada Pesantren Kilat!". Sepintas sih terdengar gak ada masalah, tapi dari getar suaranya gue yakin pasti ada hal yang ditutup-tutupin dari gue, kamuflase. Ini cuma basa basi penutup kebohongan.

Tak mau bertele-tele, langsung aja gue tanya "Galang dirawat dimana?" sebenarnya pertanyaan gue cuma nebak, tapi akhirnya bibiku mengakui kebohongannya "Di Rumah Sakit Sragen, tadi kena musibah bus yang ditumpainya tabrakan, lukanya ringan. Ini lagi dirontgen ngecek apa ada luka dalam ndak. Ayah jangan dikasih tau dulu ya mas! Mas Galang baik-baik aja, ntar kalo sudah bener-bener sembuh baru dikasih tau"

Kronologis kejadian menurut versi adik gue gini:

Sabtu, 15 September 2007. Seperti hari-hari sebelumnya, adikku kalau berangkat ke sekolah menggunakan suatu jasa transportasi yang kalau di tempat gue namanya 'Angkot'. Tapi entah mengapa, hari itu dia tumben-tumbenan naik bus. Dan pilihan bus jatuh pada sebuah minibus Gaya Kerja bernomor polisi AD 1485 BT yang datang dari arah Sragen yang kala itu sedang menaikkan penumpang. Dari arah berlawanan truk gandeng bernomor polisi L 7230 TG yang mengangkut tetes tebu mencoba menyalip dua mobil di depannya.

Akan tetapi, jalan yang sedikit menikung dan bergelombang membuat truk gandeng kehilangan kendali dan menabrak bus berpenumpang lebih dari 20 orang tersebut. Bagian tengah truk gandeng yang keluar dari badan jalan langsung menghantam bagian depan bus. Dan kemudian terjadilah peristiwa tabrakan itu di Jalan Ngawi-Sragen Km 35, Kecamatan Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.

Konon katanya, ketika naik bus ada orang tua yang menyuruh adik gue untuk duduk di kursi yang dia tunjuk, yaitu di bagian belakang tak jauh dari pintu. Adik gue tak ingat persis apa yang menimpanya saat musibah itu terjadi karena langsung pingsan seketika. Yang dia ingat pada waktu kejadian, dia merasa seakan terbang kemudian mendarat di tempat yang empuk, lalu di bagian kaki terasa panas dan perih. Tentu saja, sebenarnya dia tidak terbang tapi terlempar, lalu mendarat di area persawahan yang relatif empuk, kakinya perih karena terkena pecahan kaca dan tumpahan oli panas.

Beruntung di TKP ada seorang warga yang ikut membantu proses evakuasi mengenali adik gue, maklumlah secara adik gue kan ganteng, walaupun kalau gue perhatiin masih gantengan gue. Segera dia membawanya ke puskesmas kemudian menghubungi pihak keluarga yang rumahnya dekat dengan insiden. Kalau diantara pembaca melewati Pondok Pesantren Gontor Putri I, diseberangnya ada sebuah rumah yang juga sebagai agen bus dan travel Rosalia Indah. Kalau mau ke Jakarta atau Surabaya, pesen tiketnya disana aja. Dirumah itu pula Setya Harmono dibesarkan (kalau belum tau siapa Harmono, baca di Realitanya Ngga Gitu ).

Kembali ke cerita, gayung pun bersambut berita ini diteruskan ke pihak keluarga dimana adikku tinggal. Seperti biasa, setiap mendengar berita buruk, eyang putri langsung ambruk. Begitulah kronologis kejadian yang bisa kusimpulkan.

Keadaanku masih labil, aku masih memantau dalam cemas perkembangan berita melalui media massa baik koran, televisi, internet, maupun telepati. Aku baru bisa tenang setelah berbicara secara langsung dengannya melalui telepon. Dengan mendengar suaranya, aku bisa memastikan keadaan seseorang saat itu. Bersyukurlah aku kepada-Nya karena musibah ini tidak fatal menimpa adikku, hanya mengguncang cara berpikirku yang efeknya berat badanku turun drastis sekitar 2,5 gram.

Secara pribadi gue sering melanggar apa yang diperintahkan-Nya, meskipun begitu pertolongan dari-Nya masih sering kurasakan. Sering gue menyesal atas sikap gue yang kurang mensyukuri nikmat-Nya, tapi dari situlah gue tau bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tidak selalu mengabulkan do'a persis seperti yang kita minta, tapi Dia memberi jalan lain yang lebih baik bagi kita. Ketika gue berpikir bahwa hidup ini bagiku tak adil, Dia menunjukkan padaku jalan keadilan dari-Nya merupakan keadilan yang yang sesungguhnya. Disinilah letak keadilan Tuhan, keadilan dari Yang Maha Adil.

Ada bebera poin menarik yang kuhimpun pasca tragedi, diantaranya:
  1. Di televisi dikabarkan korban nyawa ada 11 orang, 6 orang luka berat, selebihnya patah tulang. Tapi adik gue tidak fatal, hanya beberapa jahitan akibat robek dibagian kaki. Coba lihat gambar (foto terlampir). 
  2. Sebelumnya gue sempat berprasangka yang tidak-tidak loh! Di Indonesia masih banyak orang yang mementingkan diri sendiri, tanpa menghargai kepentingan orang lain. Faktanya ketika adik gue membutuhkan pertolongan, eh yang ditolong sepatunya duluan. Untung aja harga sepatu jauh lebih murah dibanding harga nyawa. Buat yang mengambilnya: "lain kali selamatkan korbannya dulu, kalau ngga ikhlas membantu, bolehlah kau ambil barangnya sebagai ongkos jasamu" 
  3. Sebelumnya dibeberapa koran ada nama adik gue yang tercantum sebagai korban, tapi sekarang ketika kucari lagi sudah tak ada. Mungkin namanya telah dihapus dari database media online tersebut. Aku menduga ada keterlibatan Kelompok Jubah Hitam dalam sekuel Meitantei Conan Edogawa, dalam kasus ini. Hmmm...
  4. Udah dulu ya... Aku lupa mau nulis apa di poin keempatnya. Maklumlah, manusia itu tempatnya lupa. Oleh karena itu aku menulisnya, biar gak lupa dan biar aku selalu bersyukur pada-Nya. Ibarat komputer, otakku adalah RAMnya sebagai penyimpanan primer (memori utama) dan catatan ini adalah sebagai HARDDISKnya atau sebagai memori sekundernya
  5. Yee... Masih dibaca juga! Udah habis wooii...




    Lanjutkan....!!!
    • Digg
    • Del.icio.us
    • StumbleUpon
    • Reddit
    • Twitter
    • RSS